Advertisement

Responsive Advertisement

Perdu

Masa lalu tak pernah benar-benar menghilang

nampak, ghaib, dan begitu dalam.

Kecewa adalah pengkhianatan

pada luka yang kita buat sendiri

pada takdir yang kita pancang jauh-jauh hari

sebelum tiba detik ini



Kita tak pernah benar-benar bercita

juga cinta yang sama palsunya dengan senyum para pelacur

Masa adalah ruang yang tak terjamah

tempat kita berpijak adalah waktu yang terus kita ingkari

kemana arah tuju hidup ini?

Kepada siapa kita benar-benar bersyukur?

Kepada kepentingan? Pada hasil-hasil yang kita raih?

sesembahan baru satu-satu bermunculan di hati kita.



Hari yang tak pernah aku pikirkan

yang tak pernah aku harapkan

kini malah mewujud

sebentuk sampah

gelisah yang belum juga terjawab



Kemarilah kalian

kalian yang dulu menyangjung dan memujiku

kini semua-mua adalah reruntuhan

puing-puing yang tak lagi bisa dipugar

apa yang akan kalian katakan lagi padaku?

Sejarah sudah kukhianati

Cita dan cinta sudah jadi mayat di sini

Kita sudah sama-sama jadi robot

jadi budak pada syahwat dan ilusi

pada kenyamanan dan kemapanan



Kemarilah kalian

kalian yang pernah mengisi kecewa dan cemburuku

terbahaklah untuk cerita-cerita konyol yang aku ciptakan

dan nyanyikanlah belasungkawa atas kesepian yang memasungku



di sini jadi sendiri

polah-polah dunia dan uang berseliweran

jalan raya yang kiamat

memeluk tiang listrik

mengeja trotoar dan gerimis yang jarang-jarang nampak itu



satu-satu sahabat pergi

jiwa juga tak pernah terkecup kasih atau sayang

tepian sungai yang mengering di musim panas

tumbuh, tumbuhlah diriku jadi perdu di sahara...



Kairo, 9 Juni 2011

Posting Komentar

0 Komentar