skip to main | skip to sidebar

Minggu, 27 November 2011

Hujan Hindia

0 komentar

Pada malam yang menyapa lembut namun gigil. Aku masih diliputi ketakutan yang sama setelah lewat 4 tahun yang hitam. Menatap kosong sebuah ukiran hati yang sendu. Sejumput tembakau yang kering terbakar mengalir dalam seteguk kopi panas menghitam. Putih sudah masa lalu, saat kau bilang “Aku cemburu dengan masa lalumu.”

Aku memang sudah dalam hidupmu. Kau miliki sepenuhnya. Cerita masa lalu yang pernah aku lukiskan di benakmu sebenarnya tak dituju untuk membuatmu cemburu. Ini masa yang nyata, sayang. Ini rindu yang pasti. Aku yang terkapar sudah tiada. Tinggal aku yang kau sembunyikan di dalam dadamu. Dada yang tak begitu besar namun menyimpan samudera. Dada yang tak begitu tinggi namun belum juga bisa kudaki. Semua masih jadi butiran-butiran kata dalam puisi tanpa arti.

Sengaja aku bawa dirimu ke sini sayang, ke depan samudera Hindia yang sinis, yang bisu, yang menyimpan kemesraan masa lalu. Tapi bukan untuk membawamu kepada masa lalu. Aku hanya ingin memastikan bahwa aku adalah kepastian, meski lama, meski jauh. Kadang aku pikir kau seharusnya memaksaku untuk mati di dalam aortamu agar aku bisa menyetubuh dalam tubuhmu. Jadi bahagia dan sedihmu. Tapi… Sunyi sudah lebih dulu membungkam kemesraan kita. Kau masih saja cemburu dengan mereka, Siti, Rina, Dewi, Nina, Dyah. Semua sudah ada di tempat yang tak terjamah lagi. Percayalah.

Kini kuharap kau bisa menikmati Hindia. Dengan ombaknya yang nakal hingga kau harus menahan kerundungmu sementara di saat yang lain tanganmu harus menjaga rokmu agar tak liar menampakkan aurat. Tapi bukankah auratmu itu untukku? Untuk kelakianku? Tapi hatiku tak butuh auratmu. Ini adalah sekerat daging yang hanya butuh kata-kata yang sepi, seperti “aku butuh kamu” atau “aku sayang kamu”. Ini segumpal darah yang tak tahu apa-apa soal aurat.

Kadang aku begitu pesimis, juga kadang suka mengeluh, ketakutan sendiri, seperti anak kecil tak berorang tua. Aku sebenarnya hanya ingin memastikan jika aku mati aku tidak sendiri. Aku ada di dalam pelukanmu, ada dalam rahimmu, ada dalam ciumanmu.

“Di pasir inikah? Di ombak inikah? Kau bercinta dengan masa lalumu?” Perempuanku memandang jiwaku yang kini layu.

“Di sini juga aku menjaring biru bersamamu. Menangkap putih dengan pelukanmu.” Kataku. Ah malang benar kelakuanku itu. Tapi sungguh aku ingin jadi yang purna di perjalananmu. Tidakkah kau masih ingat pada perjalanan kita menembus banyak lorong di Kairo? Sharia Mu’iz? Sharia Saliba? Sharia Khalifa? Nil yang teduh. Musim-musim yang tabu di antara lauang azan? Semua sudah aku tinggalkan sebelum aku mengajakmu ke puncak Zuwayla.

“Zuwayla tidak lebih tinggi dari puncak malam pengantin kita kan?”

“Betul. Kenapa mesti cemburu? Aku lukisan kosong yang seharusnya kau warnai.”

“Aku bukan anak kecil yang hanya bisa mewarnai.”

“Ya, seharusnya kau menimang diriku.”

Kembali diam, memunguti cemburu yang tumpah sebagian. Aku tahu kau sekarang memilikiku sekaligus melepaskan aku. Hindia pun kembali pada tabiatnya, berombak dan nakal. Kenapa kita tidak mencoba jadi cinta di atas pasir ini, sayang? Aku yang laki kau perempuan, dua tubuh yang berpasang, dua hati yang berpelukan. Kenapa kita tidak saling menciumi senyuman masing-masing dari kita? Jadi masa depan yang lanskap. Penuh cerita baru yang belum terungkap?

Kau pun menelanjang, melepaskan semua harapan yang membalut tubuhmu. Jadi mimpi yang perlu dirayakan. Berdusta pada realita. Berpaling dari logika yang berbuah cemburu. Menjadi makmum pada malam-malam yang keparat. Berkhutbah pada orgasme dan ejakulasi kemanusiaan. Jadi seutuh-utuhnya kebebasan. Bukan dogma yang kaku dan mematikan? Kenapa? Karena kita sudah ada di sini. Di depan Hindia yang congkak. Biar Tuhan juga mencintaimu. Memaksamu menanggalkan semua aurat. Kau yang polos juga diriku yang lukisan kosong.

Tanganmu meraba pasir di dadaku. Mengulum angin di kelakianku. Jadi perempuan yang paling perempuan. Surga! Surga! Lupaka Archimedes yang konyol itu. Kenapa harus tunduk pada teori gravitasi? Kita jadi cinta di gerbang-gerbang rahim yang basah. Jadi bayi yang menangis pertama-tama di dunia. Jadi ibu yang membayar kelahiran dengan luka. Mencipta kehidupan yang baru.

Biarlah memuas satu-satu. Petak ini jadi bisu dan tak ada yang tahu. Di sini. Di depan Hinda. Hujan turun perlahan dari ujung kelamin kehidupan. Lalu bukan lagi aku yang laki kau perempuan. Kini kau telah menghancurkan masa lalu dan merayakan masa depan. Tariklah. Tariklah pada sisa-sisa benang di tubuhmu untuk jadi herbal yang menyehatkan, yang menjinakkan racun-racun kefanaan.

Biarlah memuas satu-satu… Perempuanku…

Kairo, 14 November 2011.
Di rindu samping rumah yang merekah.

Dir Al Idzom

0 komentar
: persembahan untuk (F) yang setia menunggu tulisan-tulisanku

“Iyakah hatimu untukku?”

1#

Pada malam-malam yang kau sisakan untukku tak juga aku temukan jawaban pertanyaan itu. Sudah panjang perjalanan yang kita tempuh. Sudah lama juga jejakmu kuikuti, kumaknai, dan kuinsafi. Tangan ini kau gandeng dan kau seret masuk dalam hidupmu. Kau jadi teman, sahabat, rekan kerja, kekasih, dan apa saja buatku. Tapi semua kau rangkum dalam satu senyum berbingkai diam.

Tanyaku setahun yang lalu masih sama-sama kita ingat dan belum kau jawab. Dan justru setahun ini kau banyak bercerita padaku tentang kota tua ini. “Kairo masih punya banyak cerita untuk kita,” katamu di Café El Fishawi Maydan Husein, setahun yang lalu.

Mendengar kau bercerita membuatku tak menyadari ada banyak pedagang menawarkan barang di lorong yang membelah El Fishawi. Anak-anak kecil yang menjajakan tisu dan pelayan-pelayan yang sibuk melayani pengunjung café seperti terjebak dalam lingkaran waktu yang membeku. Ya, kau membuat waktu di Kairo berhenti dengan ceritamu tentang Naguib Mahfouz yang menghabiskan waktu di café tua ini. Mencari inspirasi dan menuangkan ide dalam banyak karyanya.

“Kau bisa bayangkan saat itu belum ada komputer canggih seperti di zaman kita sekarang. Tapi dia terus berkarya. Karya yang luar biasa.” Katamu berapi-api tapi kemudian murung kembali. Diam. Realita seperti sedang menyudutkanmu pada satu kenyataan. Tidak ada karya dari kita. Kita sama-sama dimanjakan zaman. Tapi bagaimana dengan pertanyaanku? Kau juga masih diam soal itu.

Dari hari-harimu yang sibuk dengan ini itu, dengan si anu dan si fulan, di sini dan di sana, kau masih menyempatkan sehari dua hari untukku, Apa benar itu untukku? Atau untuk dirimu sendiri? Agar kau bisa bercerita padaku soal gereja-gereja tua di kawasan Kairo Lama? Soal kerukunan umat beragama? Masalah sektarian? Semua sudah kau ceritakan. Dan kau terus mengulang-ulang cerita itu. Dan aneh, aku pun tak pernah bosan mendengar ceritamu.

Di depan makam Ratu Syajara al-Durr kau bercerita tentang malangnya nasib sang ratu yang pernah menjadi sultanah di kekhalifahan Ayyubiyah dan satu-satunya wanita yang pernah jadi khalifah di sejarah Islam. Kau bela dia. Kau anggap dia sebagai wanita yang tangguh namun terpojokkan oleh keadaan politik saat itu. “Itulah wanita, selalu kalah, selalu dipinggirkan, dan selalu dipersalahkan.” Katamu sambil terus menatap sebuah makam yang di depannya sudah dijadikan tempat sampah oleh penduduk sekitar.

Aku menyanggahnya, maaf sayangku, aku tidak setuju. Syajara al-Durr memang bersalah. Ketika al-Malik al-Salih meninggal tahun 1249 Masehi, anaknya, Turansyah, naik tahta sebagai Sultan. Golongan Mamalik merasa terancam karena Turansyah lebih dekat kepada tentara asal Kurdi daripada mereka. Pada tahun 1250 Masehi Mamalik di bawah pimpinan Aybak dan Baybars berhasil membunuh Turansyah. Istri al-Malik al-Salih, Syajara al-Durr, seorang yang juga berasal dari kalangan Mamalik berusaha mengambil kendali pemerintahan, sesuai dengan kesepakatan golongan Mamalik itu. Kepemimpinan Syajara al-Durr berlangsung sekitar tiga bulan. Ia kemudian kawin dengan seorang tokoh Mamalik bernama Aybak dan menyerahkan tampuk kepemimpinan kepadanya sambil berharap dapat terus berkuasa di belakang tabir. Akan tetapi segera setelah itu Aybak berencana membunuh Syajarah al-Durr dan mengambil sepenuhnya kendali pemerintahan. Namun siapa sangka dengan api cemburunya Syajara al-Durr justru lebih dulu membunuh Aybak. Namun akhirnya Syajara al-Durr juga dibunuh oleh budak perempuan Aybak dengan dilempari sandal kayu sampai mati dan dilempar dari salah satu menara Citadel.

Kau tetap bersikeras pada pendapatmu. Tapi kau tidak sanggup mematahkan argumentasiku. Kau hanya melanjutkan semua perdebatan pada diam yang entahberantah di mana tepiannya.

Marah? Tidak. Kau hanya murung dan merasa terasing. Kau merasa jadi ilalang di lembah Nubia.

Aku ingin memelukmu, meyakinkan padamu bahwa kau tak sendiri di dalam gelap ini. Aku ingin mengecup bibirmu agar tabir-tabir tabu tentang peradaban bisa terucap dari bibir bekumu. “Aku bersalah padamu, menyeretmu masuk dalam duniaku. Duniaku ini di masa lalu. Di dalam sejarah, di tahun-tahun emas Abbasiyah, tahun-tahun berdarah Mamalik, dan tahun-tahun penuh kecurigaan Turki Utsmani.” Katamu sembari mengaliri pundakku dengan airmata.

Lalu? Sudah berapa kali aku yakinkan padamu. Aku rela masuk ke dalam hidupmu. Menjadi kepastian buatmu. Ada, mewujud, menemanimu, seperti Nil untuk Mesir, seperti bukit Muqattam untuk Kairo.

Di pucuk menara yang berdiri di Bab al Mitwali kuungkap kembali tanyaku. Kau jawab, “Masjid di puncak Muqattam itu masih bisu, putih sendirian.” Kenapa Badr al-Gamali membangunnya sendiri di puncak sana? Masjid putih bernama Guyushi itu hanya bisa memantau sibuknya Kairo tanpa pernah ikut dalam riuh-ramainya. Atau memang sengaja sang jenderal membangun masjid itu untuk sendiri? Agar orang-orang kelak akan tahu bahwa sendiri tak berarti lemah. Sendiri tak berarti kalah. Sendiri itu kuat. Seperti yang dituliskan oleh Bernard Shaw tentang seorang martir Protenstan bernama Saint Joan. Saint Joan berkata dalam salah satu dialog “Jangan kira kau bisa menakuti saya dengan mengatakan bahwa saya berdiri sendiri. Negara Perancis sendirian dan Tuhan juga sendirian. Kesendirian Tuhan adalah kekuatan-Nya.”

2#

Untuk sebuah malam di musim panas. Pada saat lampion-lampion khas Mesir digantung di mana-mana. Pembicaraan kita terus bergulir seiring kepulan asap syisa dan kopi memenuhi ruang café di depan Bab al-Futuh tentang mahasiswa kita yang jadi zombi di Mesir. Hidup tak hidup, pun belum benar-benar mati. Berjalan melewati hari tanpa arah pasti. Dan komunitas itu tidak kecil. “Kenapa kau masih mempedulikan mereka? Toh kezombian mereka tidak membuatmu rugi tidak pula mereka mempedulikan dirimu.”

Ini bukan profit sayangku. Aku anggap ini panggilan alam. Seperti Shalahuddin yang datang ke Mesir. “Ah dia juga ekspansi di sini. Profit juga kan?” Katamu tak mau kalah. Perdebatan di antara kita memang tak pernah berakhir. Semua terus mengalir seperti Nil. Tapi lagi-lagi kau membekukan semuanya, waktu, langkah hidup, dan pertanyaanku. Aku jadi seperti bertanya tanpa membutuhkan jawaban. Padahal jawaban itu sangat penting. Meski tidak akan dicatat oleh sejarah.

Angin masih saja membelai nakal jilbabmu. Aku cemburu pada malam, angin, bulan, bintang, matahari, dan debu jalanan. Mereka bebas mencumbumu, sementara aku? Aku masih berdiri di batas tabu aturan dan dogma. Atau karena aku begitu pengecut? Yang tak berani membawamu ke dalam ruangku, tempat aku mencari dan berkontemplasi? Ah sepertinya tidak begitu. Ini hanya soal kesabaran. Layaknya Al Azhar mengasuh banyak penuntut ilmu berabad-abad. Lantas aku sendiri seperti pasukan Thoriq Bin Ziyad yang tidak mendapat jalan kembali karena semua kapal sudah dibakar habis. Aku tak akan pernah bisa berbalik dan keluar dari hatimu.

Sampai di ujung jalan Gamalea belum juga ada jawaban tentang tanyaku. “Iyakah hatimu untukku?” Kuulang tanya yang sudah setahun ini kunanti jawabannya. Di depan pusara yang bisu berbau harum yang sedang dikerumuni banyak orang kau menunduk. Kau acuh tapi bibirmu bergerak. Seperti alunan simponi doa-doa itu naik kelangit, mendoakan sang cucu Rasul yang terbaring di antara Karbala dan Kairo.

Kuajak kau makan di KFC atau McDonnald. Kau tidak mau, katamu “Makanannya sangat kapitalis, minumannya kapitalis, tempat duduknya kapitalis, dan pelayan-pelayannya adalah budak-budak kaum borjuis.” Lantas makan di warung mahasiswa kita, aku bilang, “Apa ini tidak kapitalis? Mereka yang punya banyak uang menanam saham di warung-warung ini lalu mempekerjakan mahasiswa-mahasiswa miskin. Lalu mereka akan diikat dengan aturan kerja seperti layaknya buruh. Mereka melupakan posisi kesetaraan mereka sebagai sesama mahasiswa, sesama penuntut ilmu. Apa itu tidak cukup untuk menyebut kapitalis pada mereka?”

“Lantas kita harus makan di mana?” Tanyamu sedih. Kenapa kita tidak menghabiskan waktu berbagi dengan mereka para yatim dan janda-janda tua di Qarafa, sayang. Mereka diusir dari rumah-rumah mereka di Downtown sejak zaman Gamal Abdul Nasser di tahun 1950-an. Mereka terpaksa numpang hidup di tempat orang tak hidup. Anak-anak mereka dibodohkan agar tidak tahu sejarah keberadaan orang tua mereka di situ.

“Mereka yang punya uang, punya gadget mahal, berkecukupan dalam hidup sehari-hari pun masih mencari maidaturrahman untuk buka puasa.” Katamu lagi sambil menyeretku menyusuri Darb al-Ahmar. “Salahkah itu?” Tanyaku. Kau diam lalu menggeleng pelan. Ah matahati kita sudah banyak tertutupi nafsu duniawi, sayang. Kita sudah lupa wujud kita sendiri, bentuk kita sendiri. Sadar tidak sadar kita semua sudah berusaha menjadi penguasa atau diktator ‘kecil’.
Di Maydan Shalahuddin kami duduk berdua meratapi malam yang sendu. Sambil dikelilingi bangunan-bangunan tua masa Ayyubiyah, Mamluk, Turki Utsmani, dan Muhammad Ali kami membisiki rerumputan dan bunga-bunga. “Jangan berhenti mengajari Kairo bagaimana harusnya hidup.”

“Kenapa kau tanyakan pertanyaan itu? Dan kenapa kau memilih untuk menunggu jawaban dariku selama setahun ini? Bukankah itu sangat menyakitkan?” Tanyamu lewat balik tabir alam yang mulai tersingkap. Polos, telanjangi jiwa lusuhku.
“Karena aku sudah memilihmu seperti Jauhar as-Siqli telah memilih Dir al-Idzom sebagai tempat mendirikan Fatimiyah dan Al Azhar. Seperti Ibnu Tulun memilih Qata’I untuk membangun tonggak Dinastinya.” Kataku sambil memeluk melindungi putri kita dari angin malam Kairo yang nakal. Kau tersenyum manis sekali, lebih manis dari madu dan halawa-halawa Ramadhan.

Yang mencinta
Zulfahani Hasyim

Cerpen ini pernah dipublikasikan di Buletin Suara PPMI Mesir periode 2010-2011.

Surga-Neraka

0 komentar

Senja yang sendu di sebuah café di bilangan Hay Sadis. Meja putih bundar tertata rapih dengan empat kursi mengelilingnya. Sebagian meja terisi, sebagian kosong. Di pojok café ada seorang lelaki sendirian dengan sebuah laptop putih bersimbol buah apel sudah dimakan sebagian. Dia asyik dengan laptopnya tanpa mempedulikan hiruk-pikuk café. Sementara itu tak jauh dari lelaki itu ada sekelompok lelaki-perempuan dengan umur yang berbeda-beda yang nampak dari bentuk wajahnya. Sepertinya mereka adalah keluarga besar dan sedang membicarakan permasalahan besar. Sebagian meja lagi terisi oleh muda-mudi yang asyik berpacaran, sepertinya, jika mereka bukan kakak-adik. Sisanya kosong kecuali yang di sudut paling barat di bawah sebuah pohon. Ada aku dan Fiya di situ.

Kami masih sama-sama tenggelam dalam tatapan masing-masing. Aku menatapnya dan dia menatapku. Diam kami seribu makna, tapi yang jelas sedang mempersiapkan pembicaraan serius. Aku menarik nafas panjang untuk selanjutnya menyalakan sebatang rokok yang sedari tadi sudah terselip di antara jari telunjuk dan jari tengah. Di bilangan Hay Sadis yang tak seramai Hay Ashir, aku dan Fiya memang sering menyempatkan duduk di café bernama Ce Umar hanya untuk ngobrol santai sambil menikmati es lemon. Tapi itu jika musim panas. Jika musim dingin Syahlab jadi alternatifnya.

Setelah rokok menyala ujungnya barulah Fiya membuka suara. “Kapan kau akan benar-benar berhenti merokok?”

“Nanti saat kau sudah mendarat ke bumi, dan mau berada di sampingku, merawat kebun dan bertani.” Jawabku singkat.

“Memangnya aku terbang ke mana?”

“Ke dunia yang entah. Entah aku yang tak tahu atau kau yang tak pernah memberitahu.”

Kami melanjutkan diam. Di sisi hatiku ada rindu sebenarnya. Tapi aku tak mau dia tahu. Suasana senja di awal musim dingin ini jadi semakin biru. Romantika suhu yang memaksa siapa saja berselimut. Menutup diri dari kenyataan dan merenungi nasib yang mengukung realita. Aku sendiri dikangkangi takdir. Enam tahun yang membosankan. Masih saja belum bisa menyelesaikan strata satu. Padahal konon katanya strata satu sudah tak lagi bermakna seperti dulu. Sarjana S1 masih banyak yang menganggur dan tidak diperhitungkan. Tapi apakah nilai kemanusiaan juga masih diperhitungkan melalui strata pendidikan? Ah konyol sekali rasanya.

Dia masih saja berada dalam garis tatap matanya yang menyorot ke mataku. Aku sadar aku tidak pernah bisa seberani ini kepada perempuan lain. Aku merasa dia adalah bumiku, bumi yang memenuhi semua syarat kehidupan bagiku. Sangat kompleks dan rumit. Bahkan aku yang meledak bersama Big Bang 15 milyar tahun silam benar-benar kehilangan semua dimensi waktu di dalam tatapan matanya. Di bola mata yang bening itu waktu membeku. Berhenti dan merenung. Melupakan spasial.

“Sungguh aku tak tahu harus menuliskan apa di lanjutan tesis magisterku ini. Aku terjebak pada pertanyaan diriku sendiri yang tidak bisa aku jawab. Aku kini bersandar pada keraguan pikiranku sendiri. Ide-ide besar yang konyol. Aku bahkan tak bisa meraba pikiranku sendiri.”

“Apa kita perlu bersenggama untuk mencari jawaban itu?”

“Konyol pikiranmu!!! Kapan kau bisa berhenti menyoal seks dalam hidupmu?”

“Setelah aku bisa terbang seperti dirimu, menjadi malaikat yang tak punya nafsu.”

Fiya memang sedang dalam kebingungan yang amat sangat. Tesisnya mengangkat ide yang sangat bagus. ‘Asy’ariyah Memandang Eksistensi Surga-Neraka dan Komparasinya dengan Kosmofisika’. Brilian tapi membuatnya tak berkutik.
Aku merasa dia terjebak dalam ketidaktahuan kosmofisika. Dunia yang fana ini juga sudah membuat bingung banyak ilmuwan, teolog, dan filosof. Semua jadi gentar saat dihadapkan pada kenyataan bahwa dunia ini punya akhir. Padahal bukankah batas akhir dan mula itu seperti selembar tisu yang kau pakai untuk menghapus bekas mayonaise di pipimu yang halus itu, sayang?

Kali ini Fiya merunduk. Kurasakan ada putus asa di wajahnya. Sementara matahari musim dingin yang semakin loyo menyangga hari yang semakin lelah, senja kuning pun ditingkahi burung-burung merpati yang sedang berpesta di udara. Kucoba mengambil dagunya yang menggantung bagaikan embun di ujung daun saat pagi masih ranum. Wajahnya naik, kutatap lagi matanya.

“Apa yang kau takutkan?”

“Kekalahan dan kehilangan.”

“Aku masih di sini di menang dan kalahmu. Aku sendiri tak pernah peduli pada kemenangan dan kekalahan.”

Pada yang kelabu di senja yang biru menyisakan tanyamu soal bagaimana eksistensi surga dan neraka di hadapan ilmu fisika yang sangat matematis. Kenapa mesti dihitung? Kenapa melupakan sisi kehambaan pada Tuhan yang berpasrah? Kau sangat perfeksionis, Fiya. Kadang aku merindukan sakitmu, karena kau yang selalu saja kuat dan menang di hadapan kehidupan. Kau juga selalu mengalahkan aku.

Kami pulang menuju hidup kami masing-masing. Aku merasakan Fiya juga membawa sedih di kepulangannya. Memang sesekali dia harus sedih. Jadi yang manusia yang bisa menangis. Jadi manusia yang bisa sakit. Jadi manusia yang tak musti yakin pada janji surga dan ancaman neraka, agar ikhlas bisa dicapai. Agar Tuhan bisa jadi cinta yang sebenarnya.
Sejujurnya aku merasa hina saat dia melanjutkan S2nya sementara aku yang masih betah di tahun ketiga Akidah Filsafat. Aku yang gagal tapi tak merasa gagal. Aku hanya tidak bisa memaksa diriku untuk sukses. Aku yang gagal dan sukses tak ada bedanya. Aku lebih menyukai kebebasan. Membaca apa saja dari apa saja. “Tapi kau juga harus memikirkan usia.” Itu sahutan yang selalu saja dilemparkan Fiya kepadaku saat aku berapologi akan kegagalanku. “Kau juga harus memikirkan kapan waktunya menikah. Atau kau hanya butuh cinta tanpa pernikahan?” Jawabku. Ah lagi-lagi kau berdalih ‘masih kecil’. Sudahlah sayang, kita sudah besar, persenggamaan kita dengan kehidupan sudah perlu diakhiri dan menjadi manusia yang adil terhadap alat kelaminnya sendiri.

Tapi aku juga tak bisa melihatnya gagal menggapai apa yang dia cita-citakan. Di Mesir ini dia sudah memasrahkan segala cita-citanya di bidang filsafat. Aku juga tak bisa diam tak membantunya meski kadang aku jadi hina karea berbeda kasta pendidikan. Apakah aku juga harus mencarikan jawaban atas pertannyaannya yang bisa membuat seorang profesor gila? Ya bahkan jika aku juga harus gila, kalau memang aku bisa gila. Karena aku tak yakin bahwa orang gila bisa gila.
Sebenarnya tak sulit jika harus merumuskan eksistensi surga dan neraka di hadapan ilmu pengetahuan bahkan jika harus dirumuskan dalam angka-angka rumit yang tentu bikin botak. Aku bisa memberi jawaban Fiya, meski kau sendiri yang cerdas itu tak pernah bisa memberi jawaban pasti kapan aku bisa memilikimu.

#

Pagi yang berkabut di musim dingin yang makin kalut. Di sebuah taman yang begitu congkak memamerkan hijaunya pada gurun kering Sahara. Dan kau masih menyandarkan jiwamu di langkahku yang tersendat. Langkah-langkah yang gontai di sebuah perjalanan yang terkejut. Di bawah lelagu musim yang aneh di lembar daun telinga kita. Kepalan tanganmu tanda dingin. “Sudah aku bilang lajang itu menyebabkan kedinginan,” ledekku. Fiya hanya bersungut-sungut gemas tanpa bisa menyentuhku.

Aku ini memang makhluk yang tak bisa disentuh siapapun, sayang. Aku ini adalah kebimbangan para manusia, kadang jadi kebencian dan jatuh cinta sejadi-jadinya.

“Kau ingin menggambarkan bagaimana surga dan neraka itu ada?”

Fiya pun langsung berhenti dan menatapku. Dia seperti dalam rangsangan seksual tingkat tinggi. Bahkan dia juga jadi seperti perampok yang sedang bernafsu menghabisi korbannya. Dia benar-benar menyudutkan aku di sebuah kursi di gelap dunia. Hanya ada satu cahaya menyorot mukaku.

“Sayangku, ibaratkan hubungan kita dengan Tuhan adalah hubunganku denganmu. Aku tuhan dan kamu manusia. Jika kamu mencintaiku, menyayangiku, dan memberikan hidupmu padaku, maka aku pun akan membahagiakanmu, aku akan turuti permitaanmu, dan akan selalu ada di dekatmu. Lebih dari itu, aku belikan kamu rumah, aku belikan kamu mobil, dan aku belikan kamu perhiasan. Kamu bahagia kan sayang jika aku begitu?”

“Sangat.” Jawabmu tergesa.

“Bukankah surga adalah kebahagiaan?”

“Ya.”

“Jadi yang mana kebahagiaan? Apakah mobil yang aku belikan? Atau rumah? Atau perhiasan?”

“Bukan, bukan itu. Kebahagiaan adalah saat kau ada di dekatku, kau setia padaku, saat kau menempatkan aku di tempat spesial di hatimu yang dengan itu semua kau memberikan apa yang aku minta.”

“Ya benar. Itulah surga.”

“Lantas neraka?”

“Kapan aku bisa menikahimu?”

“Mungkin setelah aku selesai S2.”

“Itulah neraka.”


Kairo, 26 November 2011.
Coretan nggak jelas untuk surgaku yang menjauhkan aku dari nerakaku.

Jumat, 24 Juni 2011

Acting IEA, OPEC Prepare Vengeance

0 komentar
San Francisco - The failure of OPEC to raise oil output at its last meeting, addressed the U.S. and the IEA to release strategic oil reserves. OPEC oil producers of the world was on fire and plans to retaliate.

"It is shocking and inexcusable," said an official of the Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC) in anger. "The agency (IEA) acts alone, and we do not see the need to release emergency oil."

"We will feel the impact of falling prices. This will cause prejudice against oil producers," said a delegate from the other OPEC members.

Several officials from OPEC countries to quickly hold a meeting, after the world's largest consumer of oil said it would release 60 million barrels of oil, which immediately bring oil prices down sharply. They condemned the unilateral action which was considered and warned of reprisals.

Crude oil for August delivery fell U.S. $ 4.39, or 4.6%, to as low as U.S. $ 91.02 a barrel on the New York Mercantile Exchange. After touching its lowest level at U.S. $ 89.69 per barrel of oil closing sebelumnya.Ini is the lowest figure since February 18.

As is known, the U.S. and other members of the International Energy Agency (IEA) will release 60 million barrels of oil to world markets next month. The product will come from the strategic oil reserve (Strategic Petroleum Reserve), which currently has the highest level of capacity of 727 million barrels.

The IEA said that this action aims to protect the global economic recovery by filling out the sustainability of the production shortfall from the loss of Libya, due to civil war. The decision also came up in response to political pressures from rising gasoline prices and fears of the impact of high prices on consumption trends.

The IEA, which coordinates emergency oil stock policies with 28 members, said it had been consulted about the plans the release of oil by major oil producers, OPEC and the major consumers, including China.

"The action taken today is being done in full consultation with the major producer countries. It is intended to complement the efforts of many countries, including Saudi Arabia." Thus said a senior official in the Obama administration.

For some members of OPEC, the IEA plans to add injury to the OPEC meeting earlier this month. Because the United States, which is the world's biggest oil consumer, has requested assistance from Saudi Arabia, OPEC's biggest oil exporter, to fill the supply shortfall left by Libya.

Still fresh in memory, Saudi Arabia at the last OPEC meeting yesterday, failed to persuade the other members at a policy meeting this month to increase output collectively. However, Saudi Arabia has expressed to unilaterally increase the production of 1 million barrels per day, a controversial step that painful for OPEC.

OPEC said the divisions among its members has more to do with the economy, rather than politics, although this year's unrest in the Middle East and North Africa have deepened divisions within the group. "The global economy has not turned enough to justify more oil supply," OPEC delegate said.

"If we see a glut or a decline in prices, OPEC will normally be immediately held an emergency meeting to fix it," he added.

Their reluctance also triggered some OPEC countries that still need high oil prices to cover rising costs. They have increased spending this year to create jobs and build more housing. Merrill Lynch said in an April research that Saudi Arabia now needs U.S. $ 95 per barrel to cover costs, after announcing a U.S. $ 129 billion current budget.

Saudi Arabia-related measures increase oil production 1 million barrels per day, the IEA said these figures showed the kingdom had increased production about 500 thousand barrels per day. Kuwait also said it could raise production to 200 thousand barrels per day this summer.

However, before the increase in output is realized, the IEA felt the need to anticipate. One way is to release strategic oil supplies. "This step was taken to make up for delays in the supply of Arabia before the high price of oil hit the market.", Said IEA Executive Director Nobuo Tanaka.

Amid controversy, a member of OPEC, Nigeria precisely addressing the IEA plan with cool calm. According to state-owned oil company Nigerian National Petroleum Corp.., Release of oil by 60 million barrels of oil to this market, does not alter the production of the country, because more inventory will still be needed.

"The decline in crude oil prices since the announcement of the IEA, suggests that speculators, who have been heat up the market, running scared," NNPC spokesman Levi Ajuonuma. "In the long run the IEA still need to stock, so there is still a need for production."

Oil and Greek sentiment, Lift Asia Stock

0 komentar

Sydney - Asian stocks rose, and an index round out the region correction seventh consecutive week, amid speculation China will not take steps to cool the economy, and easing concerns of Europe's debt crisis will hurt the bank.

MSCI Asia Pacific Index rose 1.2% to 132.19, and during the week up 2%, the biggest since the period ended April 22. More than three stocks rose for each that fell.

Nader Naeimi, strategist for AMP Capital Investors Ltd., Sydney said, high oil prices is a major constraint on the recovery is fragile, but anything that gives energy to the market is positive for growth, "In Greece, they manage the problem, and any advances to avoid contagion to the rest of Europe will be positive. "

The S & P / ASX 200 rose 0.2%, while the Kospi index in South Korea rose 1.7%. Hang Seng Index in Hong Kong rose 1.9%. Shanghai Composite Index also rose 2.2%, highest in four months, after Chinese Premier Wen Jiabao said, efforts to stem inflation has been working, easing concerns that the government will raise interest rates.

The Nikkei 225 Stock Average rose 0.9%. Foreign investors became net sellers of Japan stocks last week, off 142.8 billion yen (U.S. $ 1.7 billion) more shares than they bought, the most since the week ended August 27.

All 10 industry groups in Asia-Pacific index rose led by financial stocks. Aluminum Corp. of China Ltd. rose 2.9% in Hong Kong. BHP Billiton Ltd. (BHP), the world's major mining companies with the largest customer was China, gained 0.7%.

"There is concern about whether China can control inflation and maintain a rapid development, my answer is yes," Wen wrote in an opinion piece in the Financial Times newspaper. "China has made a priority of regulatory restrictions on price increases and introduces a number of macroeconomic policies that are targeted. The overall price level in the range of control and is expected to continue to fall."

Mizuho Financial Group Inc., Japan's third-largest bank by market value, rose 1.6% in Tokyo after European Union leaders pledged to save Greece from the default. While in Sydney, Commonwealth Bank of Australia (CBA), the largest lender by market value, rose 1.3% and National Australia Bank Ltd rose 0.8%.

Sony Corp. (6758), Japan's major exporters of consumer electronics and Samsung Electronics Co., which received more than 20% of sales from Europe, up respectively 2.4% in Japan and 2.5% in Seoul.

The main stock indexes in Asia rose after European Union leaders pledged to stabilize the euro area economy, to prevent the default of Greece, provided that the country's parliament votes in favor of the 78 billion euros (U.S. $ 111 billion) budget cuts next week.

The latest European effort to stem the debt crisis emerged, after the bonds euro nations are in debt and declining in the U.S. and Chinese officials warned that failure to restore confidence in the euro area economy threatens the world.

"The fact that Europe will help Greece is positive for the market," said Juichi Wako, senior strategist in Tokyo at Nomura Holdings Inc. "This means there is little potential for the crisis will spread to neighboring countries."

Qantas Airways Ltd., Australia's largest airline, rose 1.9% in Sydney after oil prices fell 4.6% in New York yesterday. Cathay Pacific Airways Ltd., Hong Kong's largest airline, rose 5.3%. Air China Ltd., the world's largest airline by market capitalization, rose 7.8% in Hong Kong and China Airlines Ltd., Taiwan's largest airline, rose 3.5%.

"In the short term, falling oil prices is a positive factor for the airlines," said Danny Yan, fund manager at Haitong International Asset Management. "However, airlines still face challenges. The decision to increase oil supply is only temporary."

Oil producer Woodside Petroleum Ltd. (WPL) sank 0.5% in Sydney, while rival Santos Ltd. fell 0.8%. Offshore producers CNOOC Ltd. sank 1% in Hong Kong.

Crude oil for August delivery fell 4.6% to U.S. $ 91.02 a barrel in New York yesterday, its lowest close since February 18, after the International Energy Agency (IEA) announced it would release emergency stockpiles to ease shortages. This is the third time at the Paris-based agency has been coordinating the use of emergency stocks since its establishment in 1974.

Source : www.inilah.com

Kamis, 23 Juni 2011

List of The Best Insurance 2010 in Indonesia

0 komentar
If View the Performance of insurance industry in Indonesia in 2009 looks bright amid the global economic crisis.

In business conditions began to recover, handed Insurance Insurance Media Award 2010 to 43 insurance companies that showed the best performance based on financial statements as of December 31, 2009.

The recipients of the award the best insurance is divided into two categories, namely Best Insurance 2010 and Good Insurance.

These insurance companies into the Insurance Best of the total 132 companies asuransijiwa, general insurance and re available.

Best Insurance Companies that pass the initial selection is then grouped, there are four general insurance group berdasarekuitas (own capital) above Rp250 billion, Rp100-250 billion, Rp50-100miliar, and less than Rp50 billion. In life insurance there are 3 groups, on top of Rp250 billion, Rp100, 250 billion and less than Rp100 billion. Being only one group reinsurance.

Regarding assessment, there are nine criteria for each industry. For the best with this type of general insurance and re insurance, appraisal criteria include: Growth in Direct Premiums, completion rates Claims, Underwriting Results Growth, Investment Growth, Investment Ratio, Total Assets Turn Over (tattoo), Assets Quality Ratios, Income Growth, and Return on equity (ROE). For life insurance, appraisal criteria: Economic Scale (Size), Growth in Technical Reserves, Underwriting Results Growth, Investment Growth, Investment Ratio, Total Assets Turn Over (tattoo), Assets Quality Ratios, Income Growth, and Return on Equity (ROE) . Increased Performance Pemulihanekonomi a particularly fast in 2009, particularly the financial sector, immediately felt the life insurance industry.

The best insurance 2010 consisted of PT Asuransi Adira Dinamika, PT Panin Insurance Tbk, PT Asuransi Export Indonesia, PT Company Reinsurance Indonesia Tbk, PT Tugu Reinsurance Indonesia (Persero), PT Indonesian International Reinsurance.

Then PT Asuransi Multi Artha Guna Tbk, PT Lippo General Insurance Tbk, PT Asuransi Central Asia, PT National Reinsurance Indonesia, PT Asuransi Jaya Protection, PT BNI Life Insurance (Persero), PT Asuransi Reliance Indonesia, PT Asuransi Cigna, PT Asuransi Bumiputera Muda General 1967, PT Asuransi Jiwa Mega Life, PT Asuransi Bina Dana Arta, PT Prudential Life Assurance, PT Asuransi Indrapura, PT AIA Financial, PT Asuransi Mercury Pratikara, PT Panin Life Tbk.

Furthermore, PT Asuransi Mitra Maparya, PT Asuransi Jiwa Sequis Financial, PT Asuransi Full Artanugraha, PT BNI Life Insurance PT Asuransi Harta Aman Pratama Tbk, PT Asuransi Takaful Family, PT Asuransi Bringin Artamakmur Sejahtera, PT Asuransi Jiwa Adisarana Wanaartha, PT Arthagraha General
Shariah Insurance Life Insurance Mubarakah PT, PT Asuransi Buana Independent, PT Batavia Mitratama Insurance, PT hexa Eka Life Insurance, PT Asuransi Artarindo, PT MAA Life Assurance, PT Asuransi Karyamas Sentralindo, PT Asuransi Winterthur Life Indonesia Good Insurance Good Insurance, PT
Citra International Underwriters, PT Multicor Life Insurance, PT Asuransi Bhakti Bayangkara, PT Asuransi Dharma Bangsa.

10 Most Beautiful Place in Indonesia

0 komentar
1. Borobudur

Borobudur is one of the largest Buddhist temple in the world. This temple was built when Samaratungga - king of the dynasty dynasty ruled in Central Java. This temple is considered one of the seven wonders of the world. Borobudur temple is located in the village of Borobudur, Magelang, Central Java. Borobudur Temple is very large and consists of large blocks of stone with a magnificent architecture. Because of that I put on the Borobudur temple the first row because of the difficulty of manufacture.

2. Komodo Island

Komodo Island is situated in a strait between the island of Flores in East Nusa Tenggara (NTT) and Sumbawa in West Nusa Tenggara (NTB). On the island of Komodo are the world's largest lizard, the Komodo dragon (Varanus komodoensis). Komodo is believed to be the relic dinosaur ancient animal that is still alive. long Komodo dragon can reach 3 meters with a weight can reach 140 kg. On the island of Komodo peariran there are also the waters belonging to the magic underwater world. Bottom of the sea waters of Komodo is the best in the world, at sea level menyembulnya dry lands are hilly coral. Very worthy of islands included in the list of wonders of Komodo in Indonesia.

3. Three color lakes Flores

The lake is the world named as one of the nine wonders of the world. Three color lake is located in Mount Flores, Flores, NTT. There were three adjacent lakes but with different colors. The crater lake is Tiwu Ata Polo (Red Lake), Tiwu Nua Muri Kooh Fai (green lake) and Ata Tiwu Mbupu (blue lake). Lake Flores is the only lake in the world that the water may change at any time, from red to dark green and maroon, dark green to light green, dark brown to blue sky. This natural phenomenon is a miracle.

4. Peak Jayawijaya and Carstenz

Peaks are also listed as one of the top seven continents (Seven Summit), which is phenomenal and a coveted mountain climbers in the world. Jayawijaya Peak National Park is located in Laurentz, Papua. The peak was covered by eternal snow. Eternal snow in Jayawijaya Peak is one of three snow fields in the tropics are found in the world.
In our country through which the equator is, watching the snow in Indonesia certainly something that is impossible to understand. Carstenz Pyramid (4884 m asl) is one of the snowy peaks. The highest peak in Southeast Asia and the Pacific is located in the Sudirman Mountains series. Peak is famous not only because of the high, but also because there is a layer of snow on top.

5. Prambanan

Prambanan is the largest Hindu temples in Southeast Asia. Prambanan temple is located on the border of Central Java and Yogyakarta. This temple was built in about the year 850 AD. The architecture of this building is magnificent and there are temples of both large and small on this Prambanan temple complex. There is also a legend that the temples are made only in a single night by supernatural powers as a condition Bondowoso Loro Jonggrang gain. But not because of the legend of Prambanan included in this list but because of the greatness of the stunning architecture of the world.

6. Bali Island

This island is one of the most beautiful island in the World. Bali Island is the world's best tourist island. Tourist resorts on the island of Bali like Kintamani, Kuta Beach, Lake Batur, Goa Gajah, Looks Siring, Bedugul, Tanah Lot and so on. The island is included in this list because many of the most amazing places with the architecture and natural beauty of this island which has also been recognized worldwide.

7. Bromo

Mount Bromo is one of five volcanic mountain complex located in the Tengger Mountains in the ocean of sand. The attraction of this mountain is a mountain that is still active. Mount Bromo tourist attraction is a natural phenomenon with a specificity of natural phenomena that are not found elsewhere is a crater in the middle of the crater (in the creater creater) with a stretch of sea sand that surrounds it.

8. Toraja

South Sulawesi Toraja lies. Tanah Toraja is very unique, especially in terms of burial. Corpses are not buried, but placed in the caves in the rocks. The bodies are accompanied by statues depicting the deceased. Here there are graves in the rock. One form of grave is the grave stone that is made at the top of the cliff at the height of the rock. According to animism Aluk To Dolo among the people of Tana Toraja, the higher the place he put the dead body is quickened his spirit to meet with God or heaven.

9. Krakatoa

Mount Krakatau eruption ever shake the earth. The volcano has erupted on August 26, 1883. The explosion is very powerful and also cause a tsunami that killed about 36,000 people.
Krakatau eruption voice to be heard in Alice Springs, Australia and the island of Rodrigues near Africa. Mount Krakatau in the Sunda Strait between Java and Sumatra. Even the dust is said to outer space. Although Krakatoa was not as dangerous as it used to be (hopefully) but its history is one of the wonders of nature itself.

10. Lake Toba

Perhaps many do not know that Lake Toba was once a volcano. The lake is located in the former Supervolcano largest crater in the world. Mount Toba eruption is estimated at 73 thousand years ago. This eruption was recorded as the largest volcano eruption that affects climate worldwide.