
Apa yang ada dalam benak anda saat mendengar kata “ideologi”? Lantas apa reaksi anda saat mendengar kata “dogma”? Apa pun yang anda pikirkan dan bagaimana pun reaksi anda, dua kata ini sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan kita. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia “ideologi” bermakna (1) kumpulan konsep bersistem yg dijadikan asas pendapat (kejadian) yg memberikan arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup; (2) cara berpikir seseorang atau suatu golongan; (3)paham, teori, dan tujuan yg merupakan satu program sosial politik. Tapi kali ini kita akan lebih menekankan pada arti yang kedua yaitu cara berpikir seseorang atau suatu golongan.
Lantas apa hubungannya dengan “dogma”? Nanti kita akan mengkorelasikannya dengan “ideologi”. Saya punya pengalaman unik ketika berdikusi dengan seorang kawan aktivis sebuah partai yang sudah berganti haluan ideologi dari Islam menjadi nasionalis. Yang menarik adalah saat saya memojokkan dia pada kenyataan bahwa politik di Indonesia sudah sama busuknya dengan sampah-sampah di sungai-sungai Jakarta. Dia menampik dengan sebuah alasan yang bagi saya sangat menggelikan. Dia bilang bahwa politik itu seperti udara, besih dan kotornya udara tetap harus kita hirup, dan baik-buruknya politik tetap harus kita jalani.
Dari diskusi singkat via Facebook itu saya mengambil kesimpulan bahwa partai politik yang dia ikuti sudah menjadi bagian ideologi dia dan bahkan sudah sampai pada tahap keimanan, sebagaimana baik dan buruknya takdir Tuhan tetap harus kita terima. Janggal di telinga saya bukan berarti janggal di telinga mereka yang sudah “terbabtis” dalam jeratan partai politik. Politik telah mengambil posisi paling strategis dalam kehidupan beberapa orang seperti kawan saya itu. Dan bukan hal yang mustahil jika di luar sana ada orang yang mensejajarkan partai politik dengan agama atau bahkan lebih, terbukti beberapa partai yang konon berideologi agama dan kemudian kedapatan kadernya melanggar aturan hukum negara dan agama justru si pelaku dibela mati-matian oleh kawan-kawannya separtainya. Ini indikasi bahwa kepentingan partai lebih penting dari pada agama. Dan yang paling disayangkan adalah jika yang melakukan ini adalah partai yang di tingkat paling bawahnya adalah partai yang paling sering berdakwah dan ngomong soal agama di mana-mana.
Saya pernah mendapati informasi bahwa di Eropa sana para suporter sepakbola-karena saking ngefansnya dengan klub yang mereka dukung-menganggap bahwa klub sepakbola mereka itu sama derajatnya dengan agama mereka. Begitulah manusia, cenderung meyakini sesuatu yang lebih berwujudu materi dari pada hal-hal abstrak. Ketika partai telah memberikan banyak pengaruhnya kepada beberapa individu atau bahkan masyarakat, tak mustahil partai itu akan dikultuskan oleh individu atau masyarakat tersebut. Ideologi yang merasuk kedalam kehidupan seseorang bisa mengakibatkan orang itu akan melakukan apa saja untuk keyakinannya itu. Sebut saja partai Nazi yang pernah berdiri di Jerman. Saat partai ini akan runtuh karena Jerman mengalami banyak kekalahan di akhir perang dunia kedua, banyak orang yang rela mati demi Nazi. Mereka berpikir bahwa hidup mereka telah berakhir Nazi. Dan ternyata apa yang terjadi pada Nazi kini banyak kita temukan di negeri kita.
Fanatisme ideologi kadang memberi sebuah kekuatan positif pada suatu kelompok atau masyarakat. Ideologi nasionalisme yang kuat akan melahirkan generasi bangsa yang militan membangun bangsanya. Namun sisi negatif dari fanatisme ideologi ini tidak bisa dinafikan begitu saja. Ketika ideologi kebangsaan sebuah negara terlalu kuat maka ada dua kemungkinan yang akan terjadi, pertama, bangsa tersebut akan merasa menjadi bangsa paling unggul dan merendahkan bangsa lain, kedua bangsa tersebut akan melakukan agresi ke bangsa-bangsa lain baik dalam bentuk ekonomi mau pun militer.
Apa yang akan terjadi jika fanatisme ideologi masuk ke ranah politik praktis kepartaian? Jawaban paling sederhana adalah kebutaan nurani. Nurani para pengikut partai ini tidak akan bisa lagi melihat kebenaran sebagai kebenaran, dan tidak akan bisa melihat kesalahan sebagai kesalahan. Hal ini akan terus berlangsung kecuali jika sang pengikut partai itu mencoba untuk membaca keadaan di sekitar mereka, menerima banyak informasi dan ilmu pengetahuan, dan yang paling urgen adalah mau membuka diri terhadap segala masukan positif dari luar dirinya. Sang pengikut partai ini nantinya akan bisa melihat banyak hal di sekitar dirinya dengan obyektif termasuk juga melihat partainya sendiri.
Namun sebuah paradigma jika sudah kuat terbentuk dalam diri seseorang atau komunitas maka akan susah untuk dirubah. Ideologi yang berkembang melalui jalur sistem kepartaian menjalar bak sel kanker ke dalam ranah yang lebih intim lagi yaitu budaya. Ideologi partai yang awalnya hanya sekedar doktrinasi biasa berubah menjadi dogma yang haram dilanggar. Semua tentang partai itu-baik atau buruk-akan ditelan mentah-mentah tanpa ada peninjauan ulang. Keyakinan akan kebenaran yang awalnya disebarkan melalui kampanye-kampanye berubah menjadi budaya yang mendarah daging. Akhirnya sebuah sistem keperyaan lahir dari kepentingan politik ini. Saat itulah barangkali ideologi partai berubah menjadi “rukun iman” para pengikut dan simpatisannya.
Sama-sama kita ketahui, dogma lebih mempunyai sisi negatif dari pada sisi positif. Ideologi yang sudah menjadi dogma akan hidup menjadi sebuah aliran kepercayaan yang sangat sulit dipatahkan. Dia akan tetap ada menyeret pengikutnya ke lubang “kebutaan”. Sampai saat ideologi didogmakan saat itu obyektifitas akal akan hilang.
Hal ini sangat berbahaya dan sangat merugikan bangsa. Partai dan politik adalah hal yang tidak bisa seratus persen bersih. Partai adalah ciptaan manusia yang suatu saat akan nampak kekurangan dan kelemahannya. Apa jadinya jika kesalahan-kesalahan sebuah partai itu dibenarkan oleh para pengikut dan simpatisannya hanya lantaran ideologi partai yang sudah menguasai akal sehat mereka?
Masyarakat bangsa kita punya ciri khas keteguhan hati dalam meyakini sesuatu yang sudah terimani. Di sinilah lubang bagi para pemegang kepentingan partai menguasai otak-otak masyarakat. Mereka (masyarakat) tidak pernah sadar akan kebohongan yang sudah disajikan kepada mereka. Jika hal ini sudah menjalar menjadi sebuah kewajaran di masyarakat kita maka tunggu saja kehancuran bangsa kita, karena bangsa yang kuat adalah bangsa yang bisa seobyektif mungkin menilai segala hal.
Kairo, 1 Juni 2011
4 Komentar
lantas menurut anda membuat atw berpartai itu haram hukumnya?
BalasHapusTidak haram, hanya saja "kegilaan" dalam berpartai hingga pada batas matinya nurani dan akal sehat itu yang haram.
BalasHapuslalu di mana batas akhir seseorang bisa dikatakan nuraninya sudah mati? masih abstrak. klo cuma gara2 dia bilang "politik itu seperti udara, besih dan kotornya udara tetap harus kita hirup, dan baik-buruknya politik tetap harus kita jalani" lalu dikatakan naluri dia sudah mati, itu berarti pemilih pada pemilu 2009 yang jumlahnya mencapai 171 juta orang nalurinya sudah mati semua, karena secara tidak langung mereka sudah mengamini kalimat di atas dengan mencoblos partai pilihannya.
BalasHapusbarangkali benar begitu. Perpolitikan di Indonesia belum menemukan titik idealnya. 32 Tahun rakyat kita dibodohi secara politik oleh Orba, dan 13 tahun ditambah bodoh oleh reformasi. Semoga anda juga merasakan hal tersebut. Kekotoran eksekutif sebagai implementasi dari partai berkuasa, dan kebusukan legislatif yang merupakan wujud dari semua partai sudah banyak mengibuli masyarakat. Namun heran hingga saat ini masyarakat kita belum juga sadar akan hal itu. Mereka masih saja memuja-muja partai-partai pilihan mereka. Mereka tidak sadar bahwa dapur mereka tidak akan berasap hanya dengan janji manis para juru kampanye. Ini adalah ketololan yang harus diakhiri...
BalasHapus