Advertisement

Responsive Advertisement

Journey Pasca Revolusi with Kupretist du Caire (Edisi 9 April 2011)



Pagi menjelang siang di musim semi, 9 April 2011, Kairo nampak cerah. Aku, kawan-kawan Kupretist Du Caire, dan Indonesian Photographic Society in Cairo (IPSC) menjelejah kawasan Sharia Port Said (Sharia = Jalan), kawasan perdagangan yang cukup padat dan sibuk. Lalulintas di kawasan ini juga sangat sibuk karena Sharia Port Said terhubungan dengan beberapa jalur lalulintas yang sibuk seperti Sharia Al Azhar, Ramsis Street, dan Atabah Square. Selain sibuk dan penuh dengan pendagang dengan aneka dagangan ternyata jalan yang juga disebut dengan Sharia Al Khalig ini juga mempunyai sejarah panjang menembus banyak masa dan kekuasaan.



Sharia Port Said ini dulunya bukanlah jalan raya seperti sekarang tapi merupakan sebuah kanal yang menghubungkan antara Sungai Nil dan Laut Merah dan berfungsi sebagai transportasi perdagangan dan pengairan. Sampai akhirnya kanal ini ditutup pada tahun 1899, saat itu Mesir dikuasai oleh Khedive ‘Abbas Hilmi II.



Obyek petualangan pertama kami adalah sebuah rumah tua mirip sarang drakula. Jika anda sering nonton film-film vampire pasti anda akan beranggapan bahwa rumah ini salah satu tempat syutingnya. Sebegitu seramkah? Tidak juga. Rumah tua abad kesembilan belas ini masih nampak eksotik dan cukup bertahan dengan bentuk aslinya meski nampak beberapa kerusakan di sana-sini seperti dinding yang lusuh dan jendela yang banyak pecah di sana-sini. Barangkali karena masih tahap renovasi. Rumah tua itu bernama Sakakini Palace, dibangun oleh seorang kontraktor asal Lebanon yang bekerja di kanal Suez bernama Henri Sakakini Pasha. Dia selain sukses dalam proyek raksasa Kanal Suez juga sukses merebut hati penguasa Mesir saat itu sehingga berhasil masuk ke dalam pemerintahan. Sakakini Palace di bangun pada tahun 1841 dan sempat direnovasi pada tahun 1923. Gaya bangunannya bergaya Gothic berpadu dengan arsitektur Yunani dan Arab tentunya. Beberapa patung dewi-dewi Yunani menempel di dinding bagian mukanya. Soal lokasinya, Sakakini Palace seperti bersembunyi di tengah kawasan perdagangan yang sangat sibuk. Jalan-jalan di sisi-sisi rumah tua ini relatif sepi dibanding dengan jalan-jalan yang paralel dengannya sebut saja Ramsis Street dan Sharia Port Said.



Sakakini palace secara arsitektur mirip kue pengantin empat berjenjang dengan koridor, balkon, kubah, menara, guci-guci, karangan bunga, ukiran-ukiran bergelombang di bagian atas dinding, dan perisai-perisai. Pengaruh arsitektur Eropa di Kairo pada masa itu memang sangat kuat, jadi bangunan-bangunan yang dibangun sekitar abad kesembilan belas rata-rata meniru gaya Gothic Eropa. Sejak tahun 2007 rumah ini mulai direnovasi namun hingga kini belum selesai.



Perjalanan kami lanjutkan dengan membelah Maydan Gaysh ke arah sebuah masjid besar peninggalan abad ke-13 masehi bernama Masjid Sultan Baybars I. Masjid ini berlokasi di Abbasea Street yang menghubungkan Maydan Al Gaysh dan Maydan Al Zahir. Bentuknya yang besar dan posisinya di persimpangan Jalan membuat masjid ini mudah dikenali dan ditemukan. Masjid Sultan Baybars I ini dibangun oleh Sultan Al Zaher Baybars Ibn Abdullah Al Bunduqdari pada tahun 1269. Masjid ini mempunyai sejarah panjang dan di bangun pada masa keemasan Dinasti Mamluk Bahri. Masjid ini secara arsitektur cukup kolosal, dan merupakan salah satu dari lima masjid paling besar di Mesir. Empat masjid lainnya adalah Masjid Amr bin Ash, Ibnu Tulun, Al Azhar, dan Al Hakim. Meski dibangun oleh penguasa Mamluk tapi corak-corak masa Fatimiyah masih sangat kental, bisa dimaklumi Baybars Bunduqdari masih termasuk peguasa masa-masa awal Dinasti Mamluk Bahri jadi pengaruh corak bangunan dinasti sebelumnya masih cukup terasa. Sedang bentuknya yang luas tidak seperti masjid-masjid Mamluk pada umumnya karena Masjid Sultan Baybars dibangun di luar area Kairo Fatimiyyah yang sudah padat penduduk dan juga karena masjid ini diproyeksikan untuk berbagai keperluan selain keperluan ibadah. Secara kasat mata masjid ini dibangun dengan meniru model mesjid-mesjid besar era Fatimiyah.



Material pembangunan Masjid Sultan Baybars diambil dari banyak tempat yang pernah ditaklukkan oleh Sultan baybars. Kayu dan marmernya sebagian besar diambil dari gereja dan bangunan-bangunan yang diruntuhkan selama perang salib. Pemakaian material dari bangunan-bangunan Kristen adalah simbol kemenangan dan penaklukkan Islam terhadap wilayah Kristen.



Masjid Sultan Baybars adalah masjid jami’ pertama yang digunakan untuk shalat Jum’at sesuai dengan tuntunan madzhab Syafi’I setelah sebelumnya ada pelarangan atau pembatasan terhadap penyelenggaraan shalat jum’at dengan madzhab Syafi’i. Sultan Al Zahir Baybars juga sultan pertama yang memperbolehkan kembali shalat jum’at di masjid Al Azhar. Sebagai masjid kongregasi maka masjid ini menjadi serbaguna. Pada saat invansi Mongol ke Mesir Sultan Baybars menggunakan masjid ini sebagai benteng pertahanan. Masjid ini juga pernah dipakai sebagai benteng pertahanan oleh Napoleon pada saat dia menginvansi Mesir. Oleh Napoleon benteng itu dinamai benteng Sulkwoski. Pada masa penjajahan Inggris masjid ini dipakai sebagai gudang senjata. Sedang pada masa pemerintah King Fuad masjid ini diperindah dengan menanami pohon di halaman masjidnya dan dibuatkan taman-taman.



Bercerita tentang Sultan Al Zahir Baybars maka akan ada cerita heroik yang panjang. Dia berkuasa di Mesir selama tujuh belas tahun. Beliau mempunyai nama lengkap Al-Malik Al-Zahir Rukn Al-Din Baybars Al-Bunduqdari. Beliau adalah mamluk (budak) pada masa Ayubbiyah dan berasal dari Ukraina. Lahir di daerah Crimea, sebuah negara otonom di Ukraina dan dibawa ke Mesir pada saat Islam menaklukkan daerah itu. Di Mesir Baibars dibesarkan dan dilatih ilmu militer, ilmu agama, serta ilmu-ilmu lainnya. Sebelum di kirim ke Mesir, beliau menjadi budak seorang amir di Turki dan karena penampilannya yang agak berbeda (beliau berkulit putih, tinggi, dan di matanya yang biru) maka dia dijual ke penguasa Ayyubi untuk menjadi pemimpin pasukan Mamluk. Beliau ditugaskan memimpin pasukan pemanah, itu kenapa dia mendapat julukan Al Bunduqdari. Tak hanya menjadi pemimpin pasukan Mamluk, beliau pun dipromosikan menjadi pengawal pribadi Raja As Salih Ayyub. Baybars pun berhasil memimpin peperangan melawan tentara salib pada perang salib ketujuh (1248-1254) dan berhasil memukul mundur pasukan Louis IX. Beliau masih menjabat sebagai panglima perang hingga masa kekuasaan Sultan Qutuz. Beliau juga berhasil memenangi perang di ‘Ain Jalut melawan tentara Mongol yang melakukan agresi militer ke Mesir (nantinya setelah beliau menjadi sultan Mesir, beliau banyak berjasa dalam menyebarkan Islam di Mongol).



Setelah peperangan di ‘Ain Jalut Sultan Qutus dibunuh. Diduga Baybars juga terlibat dalam pembunuhan Sultan Qutuz karena beliau merasa dikecewakan oleh Sultan Qutuz. Baybars mengharapkan bisa diangkat sebagai gubernur di Allepo setelah memenangi perang ‘Ain Jalut, namun ternyata Sultan Qutuz tidak mewujudkan harapan Baybars. Setelah Sultan Qutuz terbunuh suksesi pemerintahan pun jatuh ke tangannya.



Setelah menjadi sultan, Baybars juga masih melanjutkan peperangan dengan tentara salib di Suriah. Dimulai dengan menyerang Antiokia yang pada saat itu menjadi daerah kekuasaan Mongol (sekitar tahun 1263). Baybars juga menyerang Acre tapi gagal merebutnya dari tangan tentara salib. Namun begitu Baybars berhasil memenangkan banyak peperangan lainnya dan merebut banyak wilayah yaitu Arsuf, Athlith, Haifa, Safad, Jaffa, Ashkalon, dan Caesarea. Pada tahun 1266 Baybars berhasil menaklukkan kerajaan Kristen Sisilia yang berada dibawah kekuasaan Raja Hethum I. Akibatnya Antiokia dan Tripoli yang dikuasai oleh menantu dari Raja Hethum I yaitu Pangeran Bohemond VI terisolasi. Namun beliau sempat berjanji menjamin kehidupan penduduk dua wilayah ini. Namun pada kenyataannya penduduk Antiokia dibantai dan sisanya dijadikan budak. Namun Pangeran Bohemond yang sedang meninggalkan Antiokia tidak melihat kejadian pembantaian ini. Dan Sultan Baybars sempat mengirim surat yang salah satu kalimatnya berbunyi, “Seandainya kamu ada di sana dan melihat kejadian itu, maka kamu akan berharap tidak pernah dilahirkan.”



Jatuhnya Antiokia memicu adanya perang salib kesembilan yang dipimpin oleh Edward I dari Kerajaan Inggris yang datang ke Acre pada bulan Mei 1271. Pangeran Edward I tidak sendirian melawan pasukan Islam saat itu. Tentara salib beraliansi dengan tentara Mongol. Hingga akhirnya Sultan Baybars memutuskan untuk gencatan senjata dengan Edward dan tentara Mongol (pada kenyataannya juga Edward saat itu juga tidak sanggup menaklukkan Baybars dan merebut wilayah kekuasaannya). Menurut beberapa sumber sejarah ada upaya Sultan Baybars untuk membunuh Edward dengan racun, namun ternyata tidak berhasil, dan Edward selamat dan kembali lagi ke Inggris pada tahun 1272.



Pada tahun 1277 Sultan Baybars menginvansi Kerajaan Seljuk yang saat itu didominasi oleh Mongol. Ia dapat mengalahkan tentara Mongol dalam Pertempuran Elbistan, merebut kota Kayseri, tetapi tidak dapat merebut Anatolia dan cepat mundur ke Suriah.



Baybars tewas di Damaskus pada 1 Juni 1277. Kematiannya yang aneh menjadi obyek perbincangan beberapa kaum akademisi. Banyak sumber setuju bahwa ia meninggal karena minum kumis (minuman olahan susu khas Asia Tengah) yang mengandung racun yang ditujukan untuk orang lain. Sementara sumber lain menyebutkan bahwa dia menyiapkan racun itu untuk dirinya sendiri. Sementara sumber lain mengatakan bahwa Sultan Baybars meninggal karena luka atau penyakit.



Masjid Sultan Baybars yang megah dan besar itu cukup menjadi saksi kegemilangan Dinasti Mamluk Bahri saat dipimpin oleh Sultan Al Zahir Baybars Bunduqdari. Kekuasaannya yang luas hingga Sisilia dan Antiokia dapat disimbolkan dalam arsitektur bangunan yang luas. Sang Sultan sendiri tidak dikubur di Mesir tapi di Damaskus tempat di mana beliau meninggal. Nama Sultan Baybars Bunduqdari juga diabadikan lewat beberapa novel di antaranya adalah novel berjudul “Yemshan” karya penulis Kazakhtan, Moris Simashko, dan dua novel karya Robyn Young berjudul “Brethren” dan “Crusade”.



Perjalanan kami lanjutkan ke arah Masjid tempat dimakamkannya seorang sufi abad ke-15 Masehi bernama Abdul Qadir Dasthuthi. Kami menyusuri Sharia Port Said yang berlalulintas padat. Tepat sampai di masjid Abdul Qadir Dasthuthi azan Dhuhur berkumandang. Namun kami memilih untuk shalat Dhuhur di Masjid yang tidak jauh dari tempat itu yaitu Masjid Imam Sya’roni. Imam Sya'roni adalah nama tenar dari Abdul Wahab Al Sya’roni. Pengarang kitab Al Mizan Al Kubro ini berasal dari salah satu keluarga besar Bani Alawiyyah (keturunan Nabi SAW). Tetapi, di saat terjadi ketegangan antara keturunan Bani Alawiyah dengan Bani Umawiyah, keluarga besar Bani Alawiyah yang merupakan keluarga besar Imam Al Sya’roni, berpindah ke Maghrib (Maroko); yang pada akhirnya Bani Alawiyah mampu mendirikan sebuah kerajaan di sana. Dengan demikian, Imam Al Sya’roni mempunyai silsilah keturunan dari Muhammad bin Al Hanafiah bin Ali bin Abi Thalib.Menurut riwayat yang shahih, tokoh kita ini dilahirkan pada tanggal 27 Ramadhan tahun 898 H, di sebuah pedesaan yang bernama Qalqasyandah (daerah selatan Mesir). Desa tersebut merupakan pedesaan kakeknya dari jalur ibu. Tapi, setelah empat puluh hari dari hari kelahiranya, Al Sya’roni dibawa oleh sang ibu untuk pindah dari desa kelahiranya, menuju desa asal ayahandanya yaitu desa Abu Sya'roh di propinsi Manufiyyah, yang lambat laun dari desa tersebut Imam Sya’roni mendapatkan sebuah gelar; yaitu Al Sya’roni.



Kami Shalat Dhuhur di Masjid Imam Sya’roni sambil melepas lelah sejenak. Dari Masjid Imam Sya’roni kami seharusnya mampir ke Masjid Murad Pasha namun dan Sabil Umm Husein tapi karena tujuan selanjutnya masih banyak dan waktu sudah semakin sore maka kami langsung menuju ke Masjid Qadi Yahya. Majid yang ada di persimpangan Sharia Port Said dan Sharia Al Azhar ini bergaya Mamluk akhir. Masjid ini dibangun oleh Qadi Zainuddin Yahya atau biasa disebut dengan Qadi Yahya, dan kadang disebut juga dengan sebutan Saifuddin Yahya. Masjid ini dibangun pada tahun 1444. Beliau adalah salah satu hakim dari Sultan Gaqmaq. Beliau menjabat sebagai hakim selama dua puluh lima tahun sampai akhirnya saat kekuasaan Sultan Qaytbay beliau dijebloskan ke dalam penjara hingga akhir hayatnya. Konon katanya Qaytbay sudah bosan dengan orang tua seperti Qadi Yahya, tapi entahlah mana yang benar. Posisi masjid ini aslinya berada di sebelah timur kanal. Namun kini jadi berada di tengah-tengah jalan raya. Ukiran batu di bagian mihrob dan menara masjidnya sangat mencirikan model ornamen masa akhir Mamluk Burgi terutama era Sultan Gaqmaq. Masjid ini selain sebagai tempat ibadah juga digunakan sebagai madrasah dan juga kegiatan masyarakat lainnya. Qadi Yahya sendiri selain menjabat sebagai seorang hakim juga menjabat sebagai pemuka agama dan pemimpin militer saat itu. Secara rinci beliau menjabat menjadi hakim pada masa kekuasaan Sultan Al Zahir Gaqmaq (1445-1453), Al Mansur Utsman (1453), Ashraf ‘Inal (1453-1461), Al Muayyad Ahmad (1461), Al Zahir Khusqadam (1461-1467), Al Zahir Yalbay (1467), Al Zahir Timurbugha (1467-1468), Al Ashraf Qaytbay (1468-1470). Meski mendapat penyambutan kurang ramah dan dilarang mengabadikan obyek dengan kamera oleh pengurus masjid kami tetap puas menikmati seni arsitektur yang disajikan masjid abad kelima belas masehi ini.



Setelah puas kami melanjutkan perjalanan menyeberang persimpangan yang sangat ramai di antara Sharia Port Said dan Sharia Al Azhar. Daerah persimpangan ini memang salah satu pusat komersial yang ramai di Kairo. Secara integral kawasan ini bersambung dengan kawasan Attaba yang juga kawasan perdagangan yang ramai. Mulai dari peralatan rumah tangga hingga barang-barang konfeksi ada di sini. Kami masuk lewat sebuah gang sempit yang juga padat karena mobil-mobil juga berlalu-lalang di gang ini. Obyek sejarah pertama yang kami temui di gang sempit ini adalah Masjid Sultan Gaqmaq. Masjid ini satu blok sebelah utara Darb Al Sa’ada. Masjid ini berbentuk khas masa akhir Mamluk Burgi, dengan empat iwan, dan ruang tengah yang terbuka seperti masjid-masjid era Mamluk Bahri. Dan secara kasat mata interior dan bentuk mihrobnya mirip dengan Masjid Sultan Qaytbay di Pulau Rouda, bedanya masjid ini secara ukuran lebih luas. Menaranya yang asli sejajar dengan arah kiblat. Pada pintu gerbang depannya terdapat tiga serangkai cuping berbentuk tudung (arch : trilobed hood) dengan dihiasi berbagai ornament, namun interior dalam masjid justru terkesan polos dan kecil. Sultan Al Zahir Gaqmaq sendiri berkuasa di Dinasti Mamluk Burgi dari tahun 1438-1453. Dan Masjid ini dibangun di masa akhir pemerintahannya yaitu 1451. Al Zahir Gaqmaq adalah seorang Amir sebelum menjadi sultan. Dia menjadi Amir bagi Faraq Bin Barquq, Al Muayyad Shaykh, dan Barsbay. Beliau menjadi sultan dalam usianya yang sudah lanjut. Beliau terkenal sebagai orang yang bergaya hidup sederhana, rendah hati, dan seorang muslim yang shaleh. Dia sangat hemat dalam membelanjakan anggaran negara. Dan bangunan-bangunan yang dibangunnya pun sangat minim dekorasi.

Dari Masjid Sultan Gaqmaq kami berjalan kembali menelusuri lorong kecil dan menemukan sebuah masjid kecil dengan penampilan luar masih asli namun interior dalamnya sudah ditutup dengan semen. Sedang jendela Mashrabiya masih cukup terawat. Masjid itu bernama Masjid Assanbugha. Didirikan oleh Assanbugha Bin Baktamur pada tahun 1370. Beliau adalah seorang seorang amir dan komandan pada masa Al Nasir Muhammad Bin Qalawun. Kompleks sekitar masjid ini adalah komplek penjualan perabotan rumah tangga yang cukup padat dan sibuk.



Satu blok dari Darb Al Sa’ada ada satu lagi obyek sejarah yang menjadi bagian petualangan kami sore itu yaitu Zawiya Fayruz. Zawiya fungsinya sama seperti khanqoh yaitu untuk berkhalwat para sufi. Namun begitu fungsi utamanya tetaplah sebagai masjid. Selain itu biasanya penduduk setempat menjalani pengobatan alternatif kepada para sufi di tempat itu dan meminta doa dari para sufi untuk kelancaran usahanya. Zawiya Fayruz dibangun oleh seorang Mamluk bernama Turquoise pada tahun 1426 atau pada masa Sultan Al Ashraf Barsbay. Beliau sendiri menjadi amir untuk tiga sultan Mamluk Burgi mulai dari 1410-1453. Secara arsitektur zawiya ini terkesan biasa, minimalis, namun ada satu yang menarik dari zawiya yang satu ini yaitu pucuk menaranya yang seperti nyala lilin sangat aneh dilihat. Kawan-kawanku bilang “Menaranya imut-imut.”



Setelah masuk ke lorong-lorong sempit kami kembali keluar ke Sharia Port Said, jalan raya yang tidak pernah tidur itu. Kami memutar ke arah persimpangan Sharia Port Said dan Sharia Al Azhar. Di sana kami menemukan sebuah masjid yang cukup artistik. Masjid itu bernama Masjid Abdul Ghani Al Fakhri. Kadang disebut juga Masjid Al Banat (Masjid Para Gadis). Kenapa bisa dinamakan Masjid Para Gadis? Nanti akan penulis jelaskan mitosnya.



Masjid Abdul Ghani Al Fakhri dibangun oleh Abdul Ghani Al Fakhri seorang Amir dari dua sultan yaitu Sultan Farag dan Sultan Mu’ayyad Shaykh. Masjid ini dibangun tahun 1418. Masjid ini pernah direnovasi beberapa kali yaitu pada tahun 1851-52, 1895, 1999. Pada saat direnovasi oleh Ummu Husayn Bey (salah satu istri Muhammad Ali) masjid ini ditambahi sabil-kutab, dan menara bergaya Turki Utsmani yang survive hingga hari ini. Konon Amir Abdul Ghani Al Fakhri mempunyai tujuh putri yang meninggal saat masih gadis, dan ketujuh putrinya itu dikubur di salah satu ruang di masjid ini. Itulah kenapa masjid ini terkenal dengan masjid Al Banat atau Masjid Para Gadis. Hingga kini berkembang mitos di kalangan masyarakat Mesir bahwa jika para gadis berdoa di masjid ini maka akan mudah menemukan jodohnya. Maka jangan heran jika pada hari jum’at masjid ini dipenuhi dengan gadis-gadis yang berdoa meminta jodoh.



Dari Masjid Abdul Ghani Al Fakhri kami melanjutkan perjalanan ke arah selatan menuju Museum of Islamic Art. Gedung megah yang dibangun pada tahun 1899 saat masa kekuasaan Abbas Hilmi II mempunyai sejarah cukup panjang. Pada tahun 1858 Departemen Purbakala Mesir merencanakan dibuat museum khusus untuk peninggalan-peninggalan Islam. Dan pada saat pemerintahan Khedive Ismail museum itu mulai direalisasikan dengan membangun masjid di pelataran Masjid Sultan Baybars. Namun pada masa Khedive Taufiq (1899) dibangunlah bangunan baru yang bisa menampung semua benda-benda bersejarah masa Islam Kairo. Pembangunan baru selesai secara keseluruhan pada tahun1903 oleh tangan arsitek asal Itali bernama Alfonso Manescalo.



Tidak Jauh dari Museum of Islamic Art ada sebuah masjid berada di tengah jalan bernama masjid Yusuf Agha Al Hinn. Masji bergaya Turki Utsmani ini dihiasi Mashrobiya cantik dan dilengkapi dengan sabil-kutab. Masjid ini dibangun pada tahun 1625 oleh Amir Yusuf Agha Al Hinn. Beliau adalah salah satu orang Mamluk yang bisa bertahan hidup hingga masa Turki Utsmani dan masuk ke ranah pemerintahan. Masjid ini dibangun dengan percampuran gaya Mamluk Burgi dan Turki Utsmani. Bagian pintu gerbangnya mengunakan cuping tiga serangka berbentuk tudung (Trilobe Hood) dan jendela bagian atasnya meniru gaya akhir Mamluk. Namun ada jendela bundar khas Turki Utsmani. Dan yang paling mencirikan Turki Utsmani adalah menaranya yang lancip. Sementara sabil-kutabnya meniru persis bentuk sabil-kutab dari Abdurrahman Katkhuda. Masjid ini awalnya mempunya mausoleum atau kubah kuburan namun pada saat Jalan Muhammad Ali diperlebar maka mausoleum itu dihancurkan. Keberadaannya yang ada di tengah-tengah simpang Sharia Port Said dan Muhammad Ali menjadikan masjid ini seperti pulau di tengah-tengah sungai. Meski masjid ini relatif lebih muda dari masjid-masjid zaman Mamluk Bahri dan Burgi, namun masjid ini serasa lebih kusam dari masjid-masjid era Bahri dan Burgi. Nampak mihrab dan interior dalamnya yang terasa sangat sederhana dibanding masa Mamluk. Perjalanan kami sore itu pun selesai. Kami memutuskan berpisah di masjid tua itu. Sebagian kami pulang dan sebagian kami melanjutkan petualangan ke arah Masjid Sultan Hasan melalui Sharia Muhammad Ali.



Hufftt… Perjalanan yang melelahkan sekaligus menyenangkan. Menyentuh peninggalan abad pertengahan Islam Kairo serasa terlempar ke masa lalu. Perjalanan yang akan selalu menjadi kenangan dan kerinduan…



Sejarah bisa saja berbohong tapi monumen-monumen akan bercerita apa adanya kepada anda…

________________________________________

Terima kasih saya ucapkan kepada : Keluarga besar Kupretist Du Caire dan Indonesian Photographic Society in Cairo, Cocoter (Guide) kita tercinta Mas Rohim dan Mbah Imam Suhrowardi dan Fotografer kita Mas Faiz, dan semua Kupretist yang setia melangkah bersama menembus dedebuan dan lorong-lorong sempit kota tua Kairo.



Tulisan ini saya hadiahkan kepada salah seorang Kupretist yang kebetulan berulangtahun pada tanggal 9 April 2011 kemarin dan bertepatan dengan Journey Pasca Revolusi with Kupretist du Caire, my lovely kupretist, my special partner,Ulfiya Nur Faiqoh. Happy birthday!! My best whises for you… Semoga petualangan kita akan terus menyenangkan…



By Zulfahani Hasyim

Posting Komentar

0 Komentar