Advertisement

Responsive Advertisement

Mata Air Cinta

Tidakkah kau rasakan, sayang?

betapa payahnya aku memunguti kata-kata

yang membuyar seiring lamunanku

saat senyum dari bibirmu menguasai

setiap ruang dan waktu dalam hidupku

saat kenangan-kenangan yang kau cipta

membelenggu setiap garis sejarah dalam hidupku



Tidakkah kau rasakan, sayang?

aku selalu gagal menatap matamu

saat keadaan sudah mengasingkan kita berdua dari dunia

saat itu hanya ada aku dan kamu

dan ternyata aku masih saja takut

mengadu buramnya sinar mataku

dengan bening lembut sinar matamu



Tidakkah kau rasakan, sayang?

aku selalu urung mengucapkan kalimat-kalimat mesra

saat kau sudah mendekap jiwaku

dan kau nyanyikan lagu-lagu cinta

sementara angin dan matahari seperti meningkahi kebersamaan kita

lalu akhirnya semua momen itu berlalu begitu saja

tanpa terucap rayuan apapun yang mungkin sangat kau harapkan



Sungguh, aku tak bermaksud menyangkali kehadiranmu

apalagi meragukan kasih dan sayangmu

ini hanya seperti misteri pelangi

yang indah namun tak pernah bisa didapati ujungnya di bumi

atau seperti mendung yang enggan menghujan

meski sudah berat menanggung limpahan air

jiwa ini juga begitu berat menanggung rasa ini



Syairku ini pun aku tak yakin bisa mewakili

semua gelisah dan rasa gemasku padamu

semua yang ada antara aku dan kamu

itu bukan ide-ide yang bisa dirumuskan begitu saja

ini soal perjalanan panjang yang mengharuskan kerelaan dan keikhlasan

pun akhirnya aku sadari cinta itu lebih abadi dari percintaan itu sendiri



Aku hanya ingin semua berjalan apa adanya

hingga sampai pada tujuannya tepat pada waktunya

malam dan siang pun harus berjalan menurut wataknya

agar matahari dan rembulan bisa berbagi sesuai kadarnya



Suatu saat akan kau rasakan, sayang

pada hari yang berlimpah kasih dan restu

limpahan rinduku yang kusiapkan untukmu

dari semua mata air cinta di jiwaku



Kairo, 15 Mei 2011

Posting Komentar

0 Komentar