betapa payahnya aku memunguti kata-kata
yang membuyar seiring lamunanku
saat senyum dari bibirmu menguasai
setiap ruang dan waktu dalam hidupku
saat kenangan-kenangan yang kau cipta
membelenggu setiap garis sejarah dalam hidupku
Tidakkah kau rasakan, sayang?
aku selalu gagal menatap matamu
saat keadaan sudah mengasingkan kita berdua dari dunia
saat itu hanya ada aku dan kamu
dan ternyata aku masih saja takut
mengadu buramnya sinar mataku
dengan bening lembut sinar matamu
Tidakkah kau rasakan, sayang?
aku selalu urung mengucapkan kalimat-kalimat mesra
saat kau sudah mendekap jiwaku
dan kau nyanyikan lagu-lagu cinta
sementara angin dan matahari seperti meningkahi kebersamaan kita
lalu akhirnya semua momen itu berlalu begitu saja
tanpa terucap rayuan apapun yang mungkin sangat kau harapkan
Sungguh, aku tak bermaksud menyangkali kehadiranmu
apalagi meragukan kasih dan sayangmu
ini hanya seperti misteri pelangi
yang indah namun tak pernah bisa didapati ujungnya di bumi
atau seperti mendung yang enggan menghujan
meski sudah berat menanggung limpahan air
jiwa ini juga begitu berat menanggung rasa ini
Syairku ini pun aku tak yakin bisa mewakili
semua gelisah dan rasa gemasku padamu
semua yang ada antara aku dan kamu
itu bukan ide-ide yang bisa dirumuskan begitu saja
ini soal perjalanan panjang yang mengharuskan kerelaan dan keikhlasan
pun akhirnya aku sadari cinta itu lebih abadi dari percintaan itu sendiri
Aku hanya ingin semua berjalan apa adanya
hingga sampai pada tujuannya tepat pada waktunya
malam dan siang pun harus berjalan menurut wataknya
agar matahari dan rembulan bisa berbagi sesuai kadarnya
Suatu saat akan kau rasakan, sayang
pada hari yang berlimpah kasih dan restu
limpahan rinduku yang kusiapkan untukmu
dari semua mata air cinta di jiwaku
Kairo, 15 Mei 2011
0 Komentar