Advertisement

Responsive Advertisement

Menumbuhkan Budaya Komunikasi yang Sehat


Komunikasi adalah bagian terpenting dari kehidupan manusia. Maka tak heran jika komunikasi dipelajari secara khusus di universitas-universitas dunia. Ilmu komunikasi pun menjadi ilmu yang berdiri sendiri. Kenapa ada komunikasi? Tentu latar belakang semua itu adalah karena manusia diciptakan dalam keadaan berbeda-beda satu sama lain. Komunikasi ibarat jembatan yang menghubungkan dua wilayah atau daerah yang tersekat laut atau sungai. Tidak akan ada hubungan antara dua daerah ini tanpa adanya jembatan yang memediatori keduanya. Mungkin seperti itulah pentingnya komunikasi.

Tak sebatas itu, komunikasi adalah sarana untuk saling memahami dan memaklumi banyak perbedaan antara satu individu dengan individu lainnya dan antara satu komunitas dengan komunitas lainnya. Mungkin rasanya tidak terlalu berlebihan jika ungkapan “tak kenal maka tak sayang” adalah alasan kenapa kita harus selalu berkomunikasi.

Meski mengambil bagian terpenting peradaban manusia, komunikasi sering melenceng jauh dari relnya. Komunikasi menuai banyak pergeseran nilai dan makna, terutama setelah era informasi menancapkan cakarnya di dunia dan genderang perang antar media atau biasa disebut war journalism ditabuh. Memang nyaris setelah perang dunia kedua usai, kemudian muncul perang dingin antara blok barat dan timur, perang bukan lagi melalui media senjata, tapi dengan menggunakan sarana media sebagai alat komunikasi masal.

Pihak-pihak yang berkepentingan memakai media sebagai ujung tombak mereka melawan musuh-musuh mereka. Dan di sini komunikasi menempat –entah secara permanen atau temporal- pada posisi yang tidak seharusnya. Komunikasi lebih dipandang sebagai transformasi informasi yang mengarah kepada propaganda. Tapi memang inilah konsekuensi dari sebuah perang dingin.

Berjalannya waktu perang dingin pun berakhir namun perang media dengan amunisi opini-opini terus berjalan. Mau tidak mau kita harus mengakui kita pun masuk dan tenggelam dalam kancah perang ini. Internet sebagai sarana tercanggih masa kini menjadi wahana persebaran informasi baik yang positif maupun yang negatif. Jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter pun menjadi tunggangan nyaman bagi opini-opini liar di masyarakat kita. Lihatlah berapa banyak kasus berawal dari jejaring sosial? Tentu secara hukum server penyedia layanan jejaring sosial tidak bertanggungjawab akan terjadinya kasus-kasus tersebut, dan sayangnya masyarakat kita masih banyak yang belum bisa bersikap dewasa dalam menyikapi banyak hal di dunia maya.

Dengan pola komunikasi dua arah di media seperti jejaring sosial berpotensi menimbulkan gesekan-gesekan sosial baik dari skala kecil sampai ke skala besar dan internasional. Apa lagi dengan semakin mudahnya media ini diakses oleh masyarakat, potensi gesekan-gesekan tersebut semakin besar. Rasanya butuh upaya pendewasaan dalam berkomunikasi. Selain itu butuh pula membumikan buday klarifikasi yang sehat dan santun. Informasi yang datang tidak serta-merta diserap dan makan mentah-mentah.

Selain media maya, media cetak dan elektronik pun mempunyai amanah moral dari masyarakat dalam menyeimbangkan dan menklarifikasi setiap informasi. Jangan sampai media cetak dan elektronik justru menciptakan satu opini “menarik” demi sebuah keuntungan material. Apa lagi jika sampai media-media tersebut menjadi corong kepentingan politik golongan, sungguh hal ini patut kita sayangkan.

Akhirnya besar harapan penulis semoga masyarakat kita semakin bijak di era informasi dewasa ini dan semoga media yang sudah ada dan yang akan lahir menjadi media informasi bukan media propaganda. Meski perang media sangat susah kita hindari, namun dengan modal independensi informasi kita patut berharap banyak pada media-media yang sudah mendedikasikan diri mereka untuk keseimbangan informasi di masyarakat.

Kairo, 16 September 2010



Posting Komentar

0 Komentar