
Mungkin tak ada kebiasan seunik bangsa kita saat Hari Raya Idul Fitri. Momen indah ini selalu penuh dengan hiruk pikuknya yang khas, mulai dari hal-hal kecil seperti bersalam-salaman hingga mudik lebaran. Hari Raya Idul Fitri menjadi agenda besar negara. Pemerintah menyiapkan jutaan bahkan mungkin milyaran untuk menyiapkan sarana dan prasarana mudik lebaran. Di kampung-kampung pun semua orang mempersiapkan lebaran dengan semeriah mungkin mulai dari baju baru hingga makan-makanan yang disuguhkan untuk para tamu. Dan tentu semua itu harus merogoh kocek yang tidak sedikit. Semua itu hanya untuk satu alasa, lebaran.
Satu lagi bagian dari lebaran ala Indonesia yang paling menarik untuk disoroti yaitu saling meminta maaf. Seakan lebaran menjadi sebuah waktu paling tepat untuk meminta maaf. It's okey, ini adalah hal baik, namun sayangnya masih bersifat temporal, dalam artian kenapa harus saling meminta saat lebaran saja? Kenapa tidak setiap hari? Bukankah kita tidak bisa lepas dari kesalahan-kesalahan yang setiap saat menapak di langkah hidup kita? Tapi memang kultur ini sudah mendarah daging, tak akan bisa dirubah dan tak akan bisa diganti. Dan lebaran pun jangan sampai dilewatkan begitu saja tanpa meminta maaf karena rasanya tidak akan afdol meminta maaf di luar lebaran. Lucu memang tapi mungkin itu lebih baik dari pada tidak meminta maaf sama sekali.
Momen lebaran pun menjadi momen penting bagi para narapidana. Para pendosa ini sepertinya harus berdoa kuat-kuat agar di saat lebaran bisa mendapat maaf alias remisi. Lihat betapa bangsa kita sudah menempatkan maaf lebih dari kekuasaan hukum. Para koruptor yang sudah tega melibas uang rakyat diberi remisi di saat lebaran. Ampunan yang seharusnya menjadi wewenan Tuhan itu beralih ke tangan manusia saat lebaran. Mungkin bisa jadi ini ada benarnya dan pun begitu tidak luput dari kesalahan fatal. Lebaran jadi alasan peringanan hukum bagi banyak koruptor. Hukum yang seharusnya dijalankan tanpa pandang bulu kini tunduk di tangan lebaran. Ironis namun itulah realita bangsa kita yang terkenal menjadi bangsa pemaaf.
Memaafkan itu baik, namun haruslah ditempatkan pada tempatnya. Pemberian maaf pada mereka yang dijatuhi hukuman justru sebuah kelaliman. Hukum tetaplah hukum harus berjalan demi lancarnya kehidupan berbangsa. Tidak ada yang bilang memaafkan itu buruk, bahkan memaafkan adalah salah satu sifat Rasulullah SAW. Namun jika salah dalam menggunakannya tetaplah memaafkan itu bisa jadi bumerang bagi keharmonisan masyarakat.
Kini kita bertanya, siapa yang paling besar pemberian maafnya di negara kita? Tentu jawabnya adalah publik. Publik selalu memaafkan pemerintah yang menjalankan birokrasi amburadul. Masalah kemacetan, masalah kemiskinan, masalah sarana-sarana umum, dan banyak lagi masalah yang ditimbulkan pemerintah selalu dimaafkan publik. Namun sekali lagi pemerintah selalu gagal memaafkan publik yang berusaha menyentil pemerintah lewat demonstrasi dan lain-lain. Berapa banyak kasus aktivis dan jurnalis yang hilang jejaknya hanya karena menyentil kinerja pemerintah? Mana ruang maaf pemerintah pada publik? Walau pun sebenarnya itu tidak perlu karena memanglah pemerintah yang salah dan publik pun tak perlu meminta maaf. Tapi bila hendak merujuk kepada perbuatan normatif seharusnya publik dan pemerintah bisa saling memaafkan.
Bangsa kita pun kerap kali menempatkan maaf pada hal-hal yang salah. Kedaulatan yang harus mati-matian dijaga dan dibela dinodai oleh negara tetangga, lalu apa sikap pemerintah kita? Ya, tentu saja memaafkan. Alih-alih ingin menampakkan wibawa sebagai bangsa yang besar, malah menjadi diremehkan dan semakin dihina di dunia internasional. Mungkin memang begitu nasib bangsa yang sangat pemaaf ini. Rasanya bangsa kita harus banyak belajar membedakan mana pemberian maaf dan mana penegakkan hukum.
Kadang kata maaf tidaklah cukup untuk menghapus dosa dan kesalahan. Kadang hukuman tetap harus dijalankan karena hukuman itu juga bagian dari pemaafan. Sekarang bangsa kita sudah semakin dewasa, semoga nantinya bisa tumbuh lebih wibawa dan bijak dalam memaafkan. Maafkanlah kekhilafan dan hukumlah kesalahan, mungkin dengan begitu Tuhan mau memaafkan kita semua. Selamat lebaran dan mohon maaf lahir dan batin wahai bangsa pemaaf.
Kairo, 1 Syawal 1431 H/10 September 2010
0 Komentar