Advertisement

Responsive Advertisement

Ramadhan adalah...


Ramadhan adalah…

Ketika aku dan kamu dipaksa bangun oleh ibu untuk makan sahur. Meski dengan malas karena masih mengantuk toh akhirnya bangun juga karena kita tahu resiko jika tidak makan sahur akan jadi penyiksaan berat di siang harinya. Lalu setelah sahur selesai kini giliran bapak memaksa kita untuk pergi ke masjid untuk berjamaah subuh. Kali ini sudah kusiapkan puluhan kembang api untuk kunyalakan di jalan nanti. Lalu aku dan kamu akan tertawa kala kembang api kita terbang mengenai seseorang.

Ramadhan adalah…

Ketika di sekolah kita dibagikan buku pencatat kegiatan amaliah Ramadhan. Buku ini nantinya akan disetorkan kembali ke bapak atau ibu guru. Lantas aku dan kamu akan bersaing untuk menjalankan banyak kegiatan keagamaan mulai dari sholat berjamaah hingga pesantren kilat di sore hari. Begitulah kita terus berlomba-lomba untuk memperbanyak amal ibadah kita.

Ramadhan adalah…

Ketika di siang yang panas di dalam kondisi lapar dan haus kita malah asyik mencari potongan bambu yang besar dan kuat untuk kita jadikan meriam karbit. Dan saat matahari sudah tergelincir kita akan sama-sama mengadu meriam buatan kita masing-masing. Terbuktilan siapa yang paling keras ledakannya.

Ramadhan adalah…

Ketika di sore hari setelah puas bermain meriam karbit kita sama-sama menukar janji untuk berangkat bersama menuju pesantren kilat. Kita pun berpisah untuk membersihkan tubuh yang sudah kumal bermain meriam karbit di ladang. Setelah berpakaian rapih dengan melilitkan sarung di pinggang, kita berjalan bersama sambil diiringi canda menuju madrasah. Kita bercerita tentang apa saja yang lucu. Berkhayal tentang apa saja yang indah dan membahagiakan. Sesampai di madrasah kita pun berebut kursi paling depan agar bisa mendengar pelajaran yang disampaikan ustadz dengan baik.

Ramadhan adalah…

Ketika kita sudah merasakan puncak kelaparan dan menanti maghrib di menit-menit terakhir sementara para panitia pesantren kilat telah membagikan nasi rames dan air teh untuk kita berbuka nanti. Ehmmm rasanya sudah tidak sabar, aku yakin kau juga begitu saat itu. Ingin rasanya cepat-cepat meneguk teh yang sudah di depan mata itu. Dan ketika lonceng tanda maghrib dibunyikan oleh panitia pesantren kilat rasanya seperti baru keluar dari neraka. Huufftt akhirnya tenggorokan kita tersiram air juga. Namun entah kenapa kita tidak tergoda dengan nasi rames itu. Di otak kita sudah tertancap masakan khas ibunda kita yang jauh lebih menggoda. Kita pun bergegas pulang dengan diiringi suara laungan azan.

Ramadhan adalah…

Es cendol dan kolak. Dua minuman khas yang sering bunda sajikan menjadi ikon tersendiri di bulan Ramadhan. Aku juga selalu tergoda dengan aroma gorengan daun bayam bunda yang renyah dan gurih. Wajar bukan kalau aku tidak tergoda dengan nasi rames di pesantren kilat. Dan saat semua anggota keluarga sudah berkumpul aku pun menjadi pusat lawakan. Di keluargaku akulah orang paling lucu dengan guyonan-guyonan segarku yang selalu aku celotehkan. Aku si bungsu yang manja sekaligus paling lucu membuat suasana buka puasa begitu meriah dan menjadi surga buat keluargaku. Ah rasanya betapa indah masa-masa itu…

Ramadhan adalah…

Saat aku dan kamu kembali bertemu dalam perjalanan menuju masjid untuk shalat tarawih. Dalam kondisi kekenyangan kita tetap semangat menjalani ritual shalat tarawih. Aku ingat saat kau selalu menghitung-hitung jumlah rakaat yang sudah dan belum terlewati. Rasanya lucu sekali melihatmu kawan karena perutmu yang kekenyangan dipaksa ikut naik turun shalat. Tapi kau tentu malu padaku jika menyerah begitu saja di tengah-tengah tarawih. Ini soal harga diri bukan? Hahaha, kita memang selalu bersaing tapi juga selalu dalam kebaikan kita bersaing.

Ramadhan adalah…

Ngabuburit. Saat pesantren kilat sudah libur tentu kau masih ingat masa-masa kita menunggu maghrib di tepian irigasi sambil menatap lanskap sawah yang hampir menguning. Sementara cahaya matahari sudah menjingga di barat sana. Lalu kita berbicara apa saja yang indah. Ramadhan seperti menjadi sebuah ritual menyusun mozaik-mozaik kehidupan kita di masa depan.

Namun Ramadhan tahun ini…

Kita sudah terpisah jauh. Adakah kau masih ingat dengan semua itu kawan? Adakah kau ingat saat berjalan-jalan pagi selepas shalat subuh di tepian jalan raya yang masih sepi? Adakah kau ingat saat suasana relijius membius desa kita? Ah kini aku harus bergelut dengan kehidupan kota yang panas dan keras. Aku rindu masa itu lagi, kawan. Bermain meriam karbit. Bermain catur. Semua demi satu hal, melupakan rasa lapar. Aku ingin mengulang cerita indah di pesantren kilat, belajar ilmu agama yang ringan tanpa perdebatan. Aku ingin kembali ngabuburit bersamamu lagi. Semoga…

Posting Komentar

0 Komentar