Advertisement

Responsive Advertisement

Your Call


Aku sedang dalam keadaan paling mabuk setelah dua orang kawankan melemparkan diriku terserak begitu saja di ruang tamu apartemenku. Semua kemudian gelap. Aku seperti terjebak di sebuah labirin. Semua warna jadi warna whiskey.

Mataku terbuka dan telingaku menangkap suara dering telepon. Sayup-sayup suara dering telepon itu timbul tenggelam. Kesadaranku pulih setengah. Sekuatnya aku gapai telpon di sudut ruangan. Ada sapaan suara perempuan.

"Selamat pagi" sapa suara itu dari seberang telepon. Aku masih diam. Kesadaranku mulai bertambah walau belum seratus persen.

"Kau baik-baik saja di sana?" Suara itu menanyakan keadaanku. Aku masih terdiam juga. Aku ingat setengah tahun yang lalu setiap pagi di jam-jam seperti ini Helena menelponku sekedar untuk membangunkanku atau hanya untuk menanyakan kabarku. Dan semua kebiasaan itu berlangsung cukup lama hingga aku hafal betul panggilan telponnya di pagi hari.

Namun semua itu sudah berlalu. Aku sudah tidak ada hubungan lagi dengan Helena sejak setengah tahun yang lalu. Dan kini tiba-tiba ada yang mengisi kebiasaan itu, bukan Helena tapi entah siapa, yang kutahu hanya seorang perempuan.

Aku masih diam untuk sapaannya itu.

"Kenapa kau harus mabuk berat tadi malam? Apa kau sudah mulai bernyanyi?"

Aku memang sudah enam bulan tak bernyanyi lagi di cafe. Setelah hubunganku dengan Helena berakhir dengan sebuah penghianatan yang sangat menyakitkan aku tidak pernah bernyanyi lagi bersama bandku. Bahkan bandku sudah hampir bubar. Atau kalau mereka ingin tetap bernyanyi maka sudah semestinya mereka mendepakku dari band. Aku ingat lagu terakhir yang aku nyanyikan, "One" sebuah lagu legendaris dari Metallica. Namun setelah itu nyaris bisa dikatakan kehidupanku berhenti. Aku datang ke Cafe tapi bukan untuk bernyanyi, tapi hanya itu memesan berbotol-botol Whiskey.

Sebenarnya dulu aku sangat menghindari alkohol dengan alasan kesehatan. Aku selalu hafal pernyataan-pernyataan ahli kimia dan dokter-dokter yang mengatakan bahwa alkohol itu merusak otak. Namun mungkin sekarang yang aku butuhkan adalah kerusakan otak agar semua memori tentang Helena hilang begitu saja. Namun rasanya bukan hanya otakku yang rusak, hidupku juga rusak. Rumahku berantakan. Aku pun sering lupa membayar tagihan listrik dan air hingga sering aku mendapat hukuman berupa pemutusan aliran listrik. Aku pun semakin tidak peduli dengan diriku sendiri. Makan semaunya dan tidur tak jelas waktunya.

Penghasilanku pun menurun drastis. Kini aku hanya mengandalkan uang hasil penjualan alat-alat musikku. Jika semua itu sudah habis aku tidak tahu apa lagi yang akan aku jual. Namun begitulah, alkohol telah membuatku tak peduli lagi dengan semuanya.

"Apa kau tidak rindu dengan suasana panggung yang penuh gemerlap lampu warna? Jujur aku merindukan nyanyianmu, petikan gitarmu." Suara dari seberang itu nampak lemah dan menyimpan rindu. Tapi apa yang pantas dirindukan? Diriku? Ah tidak. Sungguh tidak pantas. Nyanyianku? Aku bukan superstar, aku hanya penyanyi cafe.

"Bernyanyilah lagi."

"Aku sedang merasakan sakit." Kali ini aku jawab sekenanya.

"Kau sakit apa?"

"Aku tidak sakit apa-apa."

"Kalau begitu apanya yang sakit?"

"Hatiku."

Ah rasanya sembilu itu kembali menyayat ruang hatiku. Semua memori yang kucoba lupakan dengan alkohol pagi harus aku ingat lagi.

"Bernyanyilah lagi. Mainkan gitarmu. Mainkan untukku."

Kali ini aku diam lagi. Tak ada kata yang bisa aku ucapkan. Pun aku tak bisa menolak permintaannya. Tapi siapa dia? Dia hanya suara di telepon. Tapi suara itu benar-benar punya kekuatan. Aku seperti tersentak bangun dari mimpi gelapku. Aku seperti dipaksa untuk berlalu setelah aku tertatih-tatih jatuh. Aku seperti diperlihatkan cahaya terang yang sebenarnya sangat silau buat mataku namun aku pun dipaksannya melihat cahaya itu hingga rasanya cahaya itu menembus jiwa dan hatiku seperti prisma yang membiaskan cahaya dan memunculkan warna-warni pelangi.

"Aku harap kau mau bangkit lagi dan bernyanyi untukku. Aku bersedia menjadi masa depanmu agar kau tak melulu berkutat dengan masa lalumu."

Telepon pun dimatikan. Kini aku sendiri memeluk gagang telepon yang sudah tak bersuara lagi kecuali suara dengungan yang putus-putus.

Malam tiba dan kini saatnya aku kembali ke bar untuk mabuk. Entah kenapa malam ini aku ingin mencoba wine paling mahal di kotaku. Walau pasti belum menjadi paling mahal sedaratan Eropa, namun setidaknya aku akan merasa bangga bisa mabuk dengan beberapa sloki wine.

Sloki pertama wineku malam ini sudah kutenggak habis. Tiba-tiba telepon genggamku berdering. Kuangkat dan ah, ternyata suara itu lagi. Kali ini aku cukup punya kesadaran untuk menanggapi suara itu.

"Apa kau cukup punya keberanian bernyanyi malam ini?" Sapaan pertama dari suara di seberang telepon.

"Aku sedang menikmati wineku. Rasanya aku tak punya waktu untuk bernyanyi."

"Berarti kau pengecut."

"Aku bukan pengecut aku cuma tidak ingin bernyanyi."

"Kau tidak berani."

"Aku berani cuma aku tidak ingin."

"Kalau begitu kau tidak berani punya keinginan."

Aku diam. Kata-katanya menyerbu ruang hatiku. Adrenalinku terpacu. Darah mengalir cepat. Jantungku berdegub keras. Aku seakan-akan sedang ditantang untuk membuktikan kejantananku. Aku pun naik ke panggung. Kuambil gitar dan kurebut mikrofon. Kunyanyikan sepuluh lagu berturut-turut malam itu. Hingga bar tutup dan aku duduk sendiri terlemas di panggung. Saat itu mungkin aku lebih tepat disebut seorang gila dari pada seorang penyanyi.

Aku pulang terhuyung-huyung karena pengaruh wine. Cukup nikmat wine malam ini, apa lagi setelah menyanyikan sepuluh lagu rasanya aku terjangkit haus yang tiada terkira. Rumahku sudah cukup dekat saat panggilan telepon berbunyi lagi. Aku sudah yakin pasti suara itu lagi. Dan aku sebenarnya sangat enggan mengangkatnya namun lagi-lagi dering telepon ini benar-benar punya magnet yang cukup kuat atau sihir yang teramat sakti yang memaksaku untuk mengangkatnya.

"Cause I was born to tell you I love you, and I am torn to do what I have to, to make you mine, stay with me tonight."

"Siapa dirimu sebenarnya?"

"Aku adalah dirimu."

"Lantas kau ada di mana?"

"Aku ada di dalam hatimu."

"Please!!! Jangan buat aku bingung begini."

"Baiklah kau tidak akan pernah bingung lagi. Kita akan bersatu selamanya. Sekarang ada mobil yang meluncur dengan kecepatan seratus kilometer per jam dan mobil itu sekarang berada dekat denganmu dan sedang meluncur ke arahmu."

"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!"

Kairo, 26 Juli 2010, 07:06 A.M
Terima kasih untuk panggilan telponmu senja itu.

Posting Komentar

0 Komentar